Jendela Indonesia

Motivate young generation to be success in internet era

Tanggapan terhadap artikel Ninok Leksono, Jejak Naga Silikon dan Masa Depan Ekstrem

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada November 5, 2009

Oleh: Syafedi Syafei Ph.D

Artikel yang sangat menarik dari Ninok Leksono. Seharusnya pemerintah memberikan motivasi dan stimulus ke bidang teknologi Informasi ini. Tetapi kenyataannya dari perkembangan sejarah Indonesia banyak hal yang dilakukan adalah bersifat unmotivated dengan kebijakan yang tidak bijak dan merugikan. Seharusnya stimulus yang diberikan bukan bersifat BLT seperti projek Block grand Dikti kemaren ini.

Banyak kebijakan pemerintah bersifat instan, dan tanpa pikir panjang. Masih ingatkah kita zaman Soedomo menjadi menteri tenaga kerja. Melalui kebijakannya semua pabrik IC angkat kaki dan ditutup di Indonesia. Pada zaman itu pembuatan IC membutuhkan tenaga kerja (umumnya wanita) yang harus melihat setiap Chip IC dibawah microscope, apakah ada debu (rusak) atau tidak, kebetulan zaman saya mahasiswa, jurusan Fisika UI pernah berkunjung ke salah satu pabrik IC ini di daerah Cibinong. Karena perkembangan teknologi perusahaan ingin mengganti tenaga kerja ini dengan robot. Soedomo tidak mengizinkannya, maka mereka memutuskan angkat kaki dari Indonesia.

Pada waktu pabrik chip IC ada di Indonesia, banyak peneliti bahkan mahasiswa bisa mendesain rangkaian electronik dan mencetaknya dalam bentuk IC. Pada zaman itu LEN (lembaga Elektronik Nasional) dibawah LIPI berjaya. Mereka dibiarkan bebas berkreasi, kemudian ada intervensi dari atasan terhadap lembaga, yang bersifat pemasungan terhadap kreativitas mereka. Dan sekarang, LEN masih adakah? Dampak penutupan pabrik IC dan pamasungan atas kreatifitas karyawan LEN oleh atasan dapat kita rasakan sekarang. Tidak ada satupun pabrik telpon celluler di Indonesia. Kalau kita buka case komputer, tidak ada satupun chip IC made in Indonesia. Dulu masih kita temukan “made in Indonesia Inside” the case

Pernahkah anda mengenal Ahira? Barangkali tidak banyak yang mengenalnya. Dia adalah seorang Blogger, yang memanfaatkan Internet untuk cari uang. Usaha ini dilakukan mulai sewaktu mahasiswa dengan kunjungan yang intens ke warnet. Dia memanfaatkan Google Adsense untuk cari uang.dan menjual ilmu SEO (Search Engine Optimatization) agar webpagenya muncul di halaman pertama mesin pencari google.

Sebenarnya, tidak perlu terlalu jauh mencari sukses story ala Ahira. Disini di PPIN, BATAN. Beberapa teman mendapat pendapatan sampingan ada yang mencapai Rp 3 jt/bulan rutin, hanya dengan mengisi iklan-iklan di satu website. Saya sendiri semula bergabung dengan niat membantu bisnis kawan. Setelah menjadi anggota, tidak ada aktifitas pengisian iklan. Tetapi akhirnya saya lakukan juga, hanya pada waktu bulan Okt, Nov, dan Des 2008, setelah itu boleh dikatakan tidak pernah lagi pengisian iklan. Sekarang saya memperoleh Rp 200 rb- Rp 400 rb/bulan.

Saya membayangkan jika banyak anak bangsa yang mempunyai keahlian seperti Ahira, atau Djoko yang mengerti SEO dan programming untuk menambahkan keyword ke webpage, serta trick-trick lainnya. Indonesia akan sangat maju dalam bisnis internet. Kenapa kita tidak mendidik anak bangsa tentang bisnis internet ala persipan TOFI (olimpiade Fisika). Saya dapat membayangkan beberapa tahun ke depan, Anak bangsa Indonesia mempunyai website dalam berbagai bahasa yang mempunyai rank atas dalam alexa.com. Melalui google adsense, pendapatan akan lebih besar apabila website dalam bahasa Inggris. Karena pemasang iklan melalui “adword google” dalam bahasa Inggris (perusahaan asing) membayar iklan lebih mahal.

Saat ini iklanmax.com, yang dikembangkan Djoko dari PPIN mempunyai rank di Indonesia mendekati no 100, dengan kunjungan mencapai 70.000 s/d 100.000 pengunjung sehari. Bulan kemaren dia menunjukkan cek senilai $ 3.700 hanya dari google adsense. Anak muda yang kreatif ini juga mempunyai penghasilan dari website lain, termasuk dari amazon.com. Saya cukup mengenal kemampuannya, karena pernah saya ajak pada projek di depertemen yang menelan biaya milyaran rupiah. Barangkali ujud projek tersebut sekarang ini tidak berbekas?

Kenapa tidak dibentuk suatu lembaga/wadah agar anak bangsa dapat saling berbagi ilmu dalam teknologi internet dan bisnis Internet? Wadah yang menyebarkan ilmu, menghimpun anak muda berbakat, dan mendata statistik bisnis internet.

Dimana hasil akhirnya jelas Dollar. Beberapa tahun ke depan diharapkan akan ada website hasil karya anak bangsa se kaliber Amazon.com , Ailbaba.com , bahkan yahoo.com Saya pernah berbicara dengan Djoko, dia siap berbagi ilmu. Tetapi, tentu saja tidak ada yang gratis di dunia ini, hal yang gratis adalah bentuk unmotivated. Kalau perlu biaya pelatihan lebih besar, agar motivasi anak muda berbakat ini dan Djoko-djoko yang lainnya akan lebih besar untuk berbagi ilmu. Bentuk stimulus semacam ini akan jauh lebih baik untuk masa depan Indonesia, bukan cara BLT dalam bentuk block grant

wass,

Syafedi Syafei Ph.D

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/22/ 03095268/ jejak.naga. silikon.dan. masa.depan. ekstrem.
Jejak Naga Silikon dan Masa Depan Ekstrem
Senin, 22 Juni 2009 | 03:09 WIB

ninok leksono
Tatkala mendengarkan kuliah Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu tentang ekonomi kreatif di Universitas Multimedia Nusantara, di Serpong, 5 September 2008, tumbuhlah persepsi bahwa inilah jenis ekonomi yang akan dikembangkan di Indonesia. Aktivitas di 14 bidang industri kreatif unggulan diharapkan mampu menggairahkan perekonomian Indonesia, menghasilkan pendapatan dalam orde ratusan triliun rupiah per tahun.
Pemikiran tersebut masuk akal, didasarkan pada keunggulan komparatif dan kompetitif. Komparatif, karena bak sumber daya alam, tradisi membatik atau seni kriya, misalnya, telah lama menjadi bagian dari budaya kita. Kompetitif, karena—mengikuti tesis Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat (2006)—dunia kini berada dalam equal playing field akibat globalisasi dan proliferasi teknologi-informasi -komunikasi (TIK).
Berikutnya, seperti diamati para futuris, ekonomi kreatif— sebagian lebih suka menyebut ekonomi inovasi dalam skop lebih luas—merupakan faktor survival kritikal bagi bangsa-bangsa.
Bab ketiga buku The Extreme Future karya James Canton (2006) dikhususkan untuk membahas ekonomi inovasi, khususnya dalam upaya baru menggapai kemakmuran. Di sana antara lain diuraikan 10 tren pembentuk ekonomi inovasi—yang pertama tertulis dalam kutipan di awal tulisan ini—yang penting untuk disimak dan diuji.
Ketika menyinggung kendala yang dihadapi Indonesia dalam upaya mengembangkan ekonomi kreatif, Menteri Mari Pangestu menyebutkan (dalam Ajang Indonesia ICT Awards, Jakarta 8 Agustus 2008) bahwa pasar ekonomi kreatif hanya akan terbentuk jika punya tingkat literasi (TIK) tinggi dan sebesar-besarnya masyarakat mengakses teknologi ini.
Keadaan di Indonesia memang belum sepenuhnya menggembirakan. Kesenjangan digital, yang antara lain ditandai rasio kepemilikan PC/laptop dibandingkan jumlah penduduk, yang lebih kurang baru 10 persen, dan penetrasi akses internet yang baru sekitar 15 persen, termasuk masih lebar. Katakan teknologi mobile/seluler memperbesar potensi di atas, dari segi jumlah pengguna—yang sekarang sekitar 125 juta—mungkin memberi peluang. Namun, tren yang ada memperlihatkan perlengkapan telepon seluler canggih lebih banyak digunakan untuk aktivitas sosial daripada pengetahuan, sampai muncul kekhawatiran meluasnya simptom continuous partial attention atau attention deficiency syndrome, yang merujuk pada kesulitan untuk berkonsentrasi karena tingginya aktivitas multitasking.
Padahal, ketersediaan dan akses TIK baru satu faktor. Menurut Canton, pendirian ekonomi inovasi juga harus diiringi ”kebebasan berpikir, kebebasan pasar, dan kebebasan berusaha”.
Kita tak harus berkecil hati karena China—yang sekarang rakyatnya masih belum bebas akibat masih dianutnya sistem komunis yang membelenggu— ternyata juga bisa mengembangkan ekonomi inovasi. Apabila Canton hanya menjadikan China sebagai satu bab dalam The Extreme Future, jurnalis finansial Rebecca Fannin memperlihatkan upaya China memenangi perlombaan teknologi, khususnya TIK, saat ini (Silicon Dragon, terjemahan BIP, 2009).
Mengomentari tulisan Fannin, Managing Director The Carlyle Group David Rubenstein mengatakan, China kini menjadi penantang terbesar AS sebagai pemimpin inovasi teknologi dan peluang investasi. Sementara penulis Om Malik meyakini China akan menjadi pusat inovasi di masa datang.
Uraian Fannin menyiratkan dunia memang akan hidup di bawah bayang-bayang Naga Silikon, dan masa depan ekstrem yang dikemukakan Canton juga akan kental mewarnai peradaban masa datang. Dalam konteks ini, memadaikah upaya pemerintah sejauh ini?
Daya inovasi
Kalau memang kunci bagi masa depan adalah inovasi, siapkah masyarakat Indonesia memasuki era ini?
Mengintip cetak biru perencanaan iptek nasional seperti yang dilakukan di Dewan Riset Nasional misalnya, memang di sana ada wacana pengembangan pemanfaatan TIK di pedesaan melalui sistem dengan judul yang mantap, yakni Rural—Next Generation Network. Tapi perlu kita pantau bersama apakah sistem ini sudah dicapai tahun 2008, dan dengan itu ”kesenjangan digital” yang ada teratasi seperti dijanjikan dalam Agenda Riset Nasional 2006-2009?
Hal sama bisa dipertanyakan dengan rencana besar seperti Palapa Ring yang ditujukan mengintegrasikan layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia, terutama untuk menutup wilayah Indonesia bagian timur yang relatif masih banyak yang menganga.
Seiring Palapa Ring, ada pula rencana menyediakan akses telekomunikasi bagi seluruh desa di Indonesia sehingga equal playing field tidak saja berlingkup global, tapi juga diwujudkan dalam lingkup nasional.
Hanya saja, semua yang kita lakukan sejauh ini memang masih menyentuh bagian dasar dari inovasi yang ingin kita rebut, karena yang coba ditanggulangi baru pada sisi fisik dan teknikal. Bagaimana daya inovasi individu—sebenarnya juga pada perangkat pelaksana negara seperti pemerintah—yang akan memainkan peran penting dalam transformasi membangun masyarakat berbasis pengetahuan?
Sebagai catatan, Pemerintah Indonesia sering masih dinilai tidak konsisten, misalnya di satu sisi mempromosikan cita-cita membangun masyarakat berbasis pengetahuan, yang harus ditopang tersedianya akses TIK yang terjangkau, tetapi ternyata tarif internet relatif mahal dibandingkan dengan negara berkembang lain.
Tampaklah, memang ada persoalan besar dalam upaya bangsa Indonesia meraih teknologi dan menjadikannya sebagai daya saing. Teknologi yang sulit— misal teknologi pertahanan, seperti sering disampaikan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono—banyak yang telah dapat dikuasai. Yang belum dikuasai di sini adalah ilmu manajemen atau mengelola urusan sehingga semua hal beres seperti dicita- citakan. Dalam kaitan ini pula kita bisa mengingat hambatan inovasi yang dikemukakan M Sahari Besari dalam bukunya, Teknologi di Nusantara—40 Abad Hambatan Inovasi (2008)
Jika kita bangsa pembelajar, sesungguhnya munculnya Naga Silikon di dekat kita, atau peringatan seperti masa depan ekstrem—ditandai antara lain dengan ekonomi jenis baru—mestinya kita sekarang sudah bangkit, gregah-gregah, menyongsongnya. Kita terus bergulat, bagaimana merespons ekonomi yang komponen utamanya adalah bit, atom, neuron, dan gen?
Kalau semua terdengar masih asing—nun jauh di sana (arcane), berarti itu pekerjaan rumah bagi masyarakat Indonesia. Eranya adalah masyarakat berbasis pengetahuan, ekonominya ekonomi inovasi/ekonomi berbasis pengetahuan, tetapi fenomenanya belum kunjung hadir di sini.
Kalau reformasi belum mampu membangun masyarakat berbasis pengetahuan, menurut Yasraf Amir Piliang (dalam Reinventing Indonesia, 2008), itu karena institusi negara yang terkait pengembangan pengetahuan, sains dan teknologi, seni dan kebudayaan pada umumnya sejauh ini berjalan sekadar memenuhi anggaran, tidak mempunyai ”roh” pengetahuan dan dorongan pencapaian, serta tidak mampu menularkan ”spirit pengetahuan” pada kalangan masyarakat luas.
Tapi, seguimos adelante. Maju terus, kita tidak ingin menyerah pada keadaan

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , | Leave a Comment »

Belajar dari Darpa, Rising Above the Gathering Storm: Energizing and Employing America for a Brighter Economic Future

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada November 5, 2009

Oleh: Syafedi Syafei Ph.D

Belajar dari DARPA

Apakah itu DARPA ? Sekilas kedengarannya seperti salah satu alat musik, tetapi ini adalah hal lain, bukan alat musik Harpa. DARPA adalah suatu lembaga penelitian yang ada di Amerika Serikat. Kalau anda pernah belajar tentang sejarah internet, tentu anda sudah pernah mendengarnya. Ini adalah lembaga yang melakukan penelitian dan menemukan teknologi Internet. DARPA adalah singkatan dari Defense Advance Research Project Agency. Temuan yang dilakukan oleh DARPA yang siknikan tidak hanya Internet, tetapi juga microelektronik kecepatan tinggi, stealth dan teknologi satelit, pesawat tak berawak, dan material baru.

DARPA didirikan tahun 1958 dengan anggaran belanja sebesar $ 500 jt, setelah Sputnik diluncurkan oleh Sovyet. Pada tahun 2005 anggaran belanjanya sebesar $ 3.1 M. Tetapi ditinjau dari jumlah karyawannya, ini adalah organisasi kecil, dengan bentuk non-hirarkhi. Jumlah karyawannya adalah 220 orang termasuk staff teknik sebanyak 120 orang. Tetapi lembaga ini bisa mengangkat karyawan baru dari kalangan akademik dan industri dengan cepat dan gaji yang luar biasa tingginya melebihi gaji lembaga pemerintah lainnya.

Menurut Lawrence Dubois, DARPA menanyakan pertanyaan berikut kepada Principal Investigator, project leader, program manager :

* What are you trying to accomplish?
* How is it done today and what are the limitations? What is truly new in your approach that will remove current limitations and improve performance? By how much? A factor of 10? 100? More? If successful, what difference will it make and to whom?
* What are the midterm exams, final exams, or full-scale applications required to prove your hypothesis? When will they be done?
* What is DARPA’s exit strategy? Who will take the technologies you develop and turn them into new capabilities or real products?
* How much will it cost?

Tentang system kerja DARPA, Dubois mengutip ungkapan yang dinyatakan oleh eks program manager DARPA:

Manajemen Program DARPA aktivitasnya sangat proaktif. Dia mengumpamakan programnya seperti main catur dalam bentuk multidimensional.Sebagai pemain catur, pemain harus tau tujuannya, tetapi ada berbagai cara untuk menggerakkan bidak catur untuik mencapai kemenangan. Misal manager program, pemain catur memulai dengan beberapa gerak bidak (kelompok peneliti independen) yang berada pada lokasi yang berbeda dan juga dengan kapabilitas yang berbeda (fundamental, aplied, eksperimen, dan teori). (keterangan, Sejarah Internet dimulai dengan ARPANET yaitu bentuk komunikasi antar peneliti DARPA yang berada pada lokasi berbeda Universitas, pusat penelitian yang tersebar di beberapa state) Seseorang menggunakan team ini untuk mencapai titik serang (pada suatu kasus menyelesaikan beberapa masalah utama dan yang lainnya menyerang/menangkalnya). Yang menarik pada kasus tersebut adalah tantangan karena sasaran secara kontinu bergerak/berubah.

Kisah sukses, sistem kerja dan bentuk organisasi DARPA menjadi inspirasi bagi

Komite pada ”Prospering in The Global Economy of the 21st century an agenda for American Science and Technology, National Academy of Sciences, National Academy of Engineering, Institute of Medicine”, sehingga komite sepakat merekomendasikan sistem ini diterapkan untuk penelitian bidang energi (dibawah DOE) disebut ARPA-E.

Banyak hal menarik diuraikan pada buku ”Rising Above the Gathering Storm: Energizing and Employing America for a Brighter Economic Future”, terbitan National Academy of Sciences (2007). Sebagian besar fokus buku ini adalah pengelolaan SDM dan energi. Beberapa saya kutip dibawah.

Buku ini menurut saya (sok tau nih) harus dibaca oleh pembuat keputusan (policy maker) bidang Science, Engineering, dan energy. Lembaga-lembaga seperti CSIS (masih ada nggak?), CIDES, ISTEKS, BINTEKS, MITI, Habibie center.

Kebetulan, mumpung Indonesia lagi dibolehkan dowload pdf gratis, buru-buru lah biar Indonesia lebih maju.

Beberapa Kutipan:

Recommendation C: Make the United States the most attractive

setting in which to study and perform research so that we can

develop, recruit, and retain the best and brightest students, scientists,

and engineers from within the United States and throughout

the world.

Far beyond their (Tenaga ahli China, India) role in Silicon Valley, the professional and social networks that link new immigrant entrepreneurs with each other have become global institutions that connect new immigrants with their counterparts at home.

These new transnational communities provide the shared information, contacts,

and trust that allow local producers to participate in an increasingly global economy.

Silicon Valley’s Taiwanese engineers, for example, have built a vibrant twoway

bridge connecting them with Taiwan ’s technology community. Their Indian

counterparts have become key middlemen linking U.S. businesses to lowcost

software expertise in India . These cross-Pacific networks give skilled

immigrants a big edge over mainstream competitors who often lack the language skills, cultural know-how, and contacts to build business relationships in Asia. The long-distance networks are accelerating the globalization of labor

markets and enhancing opportunities for entrepreneurship, investment, and

trade both in the United States and in newly emerging regions in Asia

Sumber: Rising Above the Gathering Storm: Energizing and

Employing America for a Brighter Economic Future

Ditulis dalam ekonomi | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Benarkah Indonesia bisa terhindar KrisMon 1997/98 bila menerapkan Currency Board System?

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Oktober 5, 2009

Benarkah Indonesia bisa terhindar KrisMon 1997/98 bila menerapkan Currency Board System?

Sebuah Buku dengan judul “THE FALL OF SOEHARTO” yang diterbitkan oleh Crawford House Publishing, Australia tahun 1998, yang berisikan kumpulan tulisan-tulisan para pengamat Indonesia asal Australia, seperti: Hall Hill, Jamie Mackie, Richard Robinson, Harold Crouch, dan Geoff Forrester, dimana mereka mencoba menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kejatuhan Presiden Soeharto.

Faktor utama yang disebutkan di buku itu adalah semakin memburuknya situasi ekonomi saat itu. Hall Hill menilai krisis ekonomi sejak Juli 1997 menyebabkan jatuhnya Soeharto. Krisis ekonomi yang disusul krisis politik mengakibatkan pelarian modal ke luar Indonesia secara masif, hingga menyebabkan anjloknya nilai rupiah sampai mencapai Rp17.000,- per dolar.

Rupiah yang lemah membuat pebisnis “collaps” karena tidak dapat lagi mengelola utang luar negerinya. Situasi diperburuk dengan besarnya utang luar negeri dan buruknya sistem manajemen keuangan dalam negeri. Harga barang kebutuhan pokok melonjak, sehingga menimbulkan keresahan sosial yang luar biasa.

Berdasarkan fakta-fakta diatas, dapat disimpulkan bahwa kejatuhan Soeharto adalah karena Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia saat itu.
Penandatanganan LoI IMF

Penandatanganan LoI IMF

Namun sepuluh tahun sejak Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent (LoI) IMF pada tanggal 15 Januari 1998 di rumah beliau di Jl. Cendana Jakarta, disaksikan oleh Managing Director IMF Michel Camdessus sambil berkacak pinggang, sekarang muncul sebuah pemikiran baru penyebab jatuhnya Soeharto. Memang beliau itu mundur karena Krisis Moneter/Ekonomi yang melanda Indonesia, namun ini ada cerita penyebabnya.

Setelah penandatanganan LoI itu. media-media nasional dan internasional menyiarkan berita dengan judul: “Soeharto tunduk pada IMF, salah satu pilar Kapitalisme Global“, disertai foto kepongahan Bos IMF yang berdiri disamping Soeharto. Pak Harto berusaha mencari alternatif lain untuk menyelamatkan Indonesia dari KrisMon, dan memanggil Prof. Steve Hanke, pakar Currency Board System (CBS) dari AS. Prof. Hanke akan mematok Kurs Dollar terhadap Rupiah sebesar Rp 5.500/US Dollar.

Sejarah mencatat keberhasilan Mahatir Muhammad menyelamatkan Malaysia dari KrisMon yang sama. Begitu pula Argentina dan Chili yang merupakan pasien IMF, berhasil lolos dari Krisis Finansial dengan menerapkan CBS, tetapi tidak dilarang oleh IMF.

Pak Harto telah menyusun sebuah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang untuk menerapkan CBS dan dibahas pada rapat dengan Menkeu Mar’ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Sudradjat Djiwandono tanggal 10 Februari 1998. Namun Bos IMF Michel Camdessus segera mengirim surat pribadi tertanggal 11 Februari 1998 yang isinya mengancam agar Presiden Soeharto tidak menerapkan CBS, sebab hal ini akan mengganggu penerapan LoI IMF. Ia mengancam akan menunda pengucuran dana IMF sebesar US$ 43 Milyar bila tidak menuruti permintaannya.

Pak Harto merasa terjepit karena telah menandatangani LoI dengan IMF, dan kondisi ekonomi Indonesia yang makin memburuk, maka terpaksa beliau membatalkan rencana penerapan CBS, dengan akibat peneritaan rakyat Indonesia yang begitu panjang dalam KrisMon, bangkrutnya banyak perusahaan-perusahaan dan perbankan Indonesia. Kita iri dengan Malaysia, Argentina dan Chili yang dengan cepat dapat keluar dari KrisMon karena boleh menerapkan CBS. Mengapa?

Prof. Steve Hanke merasa bahwa tindakan IMF menentang penerapan CBS dan kontrol devisa di Indonesia adalah suatu kezaliman. Menurut Merton Miller, penerima Hadiah Nobel untuk Ilmu Ekonomi, mengatakan bahwa penolakan pemerintah Clinton dan IMF terhadap CBS “Bukan karena itu tidak akan jalan tapi justru kalau itu jalan maka Soeharto akan terus berkuasa“.

Menurut para ekonom yang berpikiran cerdas, masuknya IMF ke Indonesia seperti membawa kunci pembuka bagi gudang harta terpendam, yakni pasar Indonesia dan sumber-sumber daya alam dan energi yang luar biasa dahsyat. Buktinya, Di setiap pojok kota, kini begitu banyak kantor cabang bank asing, restoran asing, perusahaan tambang, perusahaan multinasional dan barang produk luar negeri.

(Sumber: Akhmad Kusaeni – Antara News).

Berikut ini adalah kesaksian Mr. Kuroda Takumi yang pada tahun 1998 sedang berada di hotel Ciragan Palace Hotel di Istambul, Turki bersama Prof. Steve Hanke saat menerima berita permintaan Presiden Soeharto untuk datang ke Jakarta. Sebuah pelajaran sejarah bagi para Capres dan Cawapres Indonesia 2009-2014:

This article was written by Steve H. Hanke and originally appeared in the National Post on May 28, 2003. He quoted Paul Keating, Lawrence Eagleberger, and even Michael Camdessus, assessing that our monetary crisis at that time really was intended to bring Soeharto down from power. And Steve himself too whom said what Merton Miller commented about the CBS as “would stabilize the rupiah and the Indonesian economy, and as a result, Mr. Suharto would stay in power“.

“Iraq, Regime Changes and Currency Boards”

by Steve H. Hanke

Most people think the overthrow of Saddam Hussein resulted from the U.S. government’s embrace of a new policy. This particular policy may be new, but the regime change idea and its use are not.

It is well known that Paul Wolfowitz, America’s Deputy Secretary of Defence, and a small group of like-minded neoconservatives, developed the regime change idea some time ago and have been promoting it ever since. Saddam Hussein was not the first to fall in the crosshairs of that policy. When the U.S. government concluded that Philippine
president Ferdinand Marcos was illegitimate, he had to go. Consequently, America actively assisted in his removal from power in 1986. The point man who engineered the overthrow of Mr. Marcos was Paul Wolfowitz, America’s assistant secretary of state at the time.
And during Mr. Wolfowitz’s tenure as the U.S. ambassador to Indonesia in 1986-1989, he planted the regime change idea once again. This time president Suharto was in the crosshairs. He was deemed to be corrupt and undemocratic and had to be overthrown. America, with the help of the International Monetary Fund (IMF), eventually accomplished its goal in 1998, when Mr. Suharto was toppled.

As it turns out, I know something about the overthrow of Mr. Suharto. In late January, 1998, I delivered a series of lectures at Bogazici University. One evening, as Mrs. Hanke and I were relaxing at Istanbul’s Ciragan Palace Hotel, I received an urgent message. It was an invitation from president Suharto to visit him in Jakarta.

Steve H. Hanke is a professor of applied economics at the Johns Hopkins University in Baltimore. He served as a senior economist on president Reagan’s council of economic advisors.

More by Steve H. Hanke
The Asian crisis of 1997 hit Indonesia hard. The IMF responded by prescribing its standard medicine, and Indonesia floated the rupiah on July 2, 1997. The results were catastrophic. The value of the rupiah collapsed, inflation soared and economic chaos ensued. Mr. Suharto was aware that I had advised Bulgaria and Bosnia to establish currency
boards in 1997. And like night follows day, currency chaos was halted in Bulgaria and Bosnia immediately after they adopted fixed exchange rates coupled with the full backing of their domestic currencies with foreign reserves.

President Suharto realized that the IMF’s medicine was killing the patient and that a currency board might prevent a complete collapse. Following our first meeting in Jakarta, Mr. Suharto named me his Special Counsellor. Shortly thereafter, I proposed a currency board for Indonesia, and Mr. Suharto endorsed the idea. This sent the Indonesian rupiah soaring. It appreciated 28% against the U.S. dollar on the day the news was released. This did not suit the U.S. government and the IMF.

Even though the currency board proposal gathered support from many Nobelists and other distinguished economists — including Gary Becker, Rudiger Dornbusch, Milton Friedman, Merton Miller, Robert Mundell, and Sir Alan Walters — it was subjected to a withering and ruthless
attack. Mr. Suharto was told in no uncertain terms — by both the president of the United States, Bill Clinton, and Michel Camdessus, then the managing director of the IMF — that he would have to drop the currency board idea or forego $43-billion in foreign assistance.

Why did a currency board for Indonesia cause such a violent reaction? Nobelist Merton Miller understood the great game immediately. He told the Christian Science Monitor newspaper that the United States wanted
to overthrow Suharto and that a currency board would spoil that plan. Prof. Miller said that the U.S. Treasury knew that a currency board would stabilize the rupiah and the Indonesian economy, and as a result, Mr. Suharto would stay in power. Consequently, the U.S. government used all means available — including the IMF — to oppose the idea. Australia’s former prime minister Paul Keating arrived at a similar conclusion: “The United States Treasury quite deliberately used the economic collapse as a means of bringing about the ouster of President Suharto.” Former U.S. secretary of state Lawrence Eagleberger embraced a similar diagnosis, too: “We [the U.S. government] were fairly clever in that we supported the IMF as it overthrew [Suharto]. Whether that was a wise way to proceed is another question. I’m not saying Mr. Suharto should have stayed, but I kind of wish he had left on terms other than because the IMF pushed him out.”

Even Michel Camdessus could not find fault with these assessments. On the occasion of his retirement, he proudly proclaimed: “We created the conditions that obliged President Suharto to leave his job.”

The neoconservative regime change idea and its use are not new. The only thing that distinguished its application in Iraq was the use of massive military force. Now comes the hard part: nation building. This will require (among other things) a sound currency. For that, a currency board would do the trick. After all, during the 1932-1947
period, an Iraqi currency board produced a sound and stable dinar anchored to the British pound.

Reference: Hanke, Steve H. (2003, May 28). Iraq, Regime Changes and Currency Boards. Retrieved June 14, 2009, from The Cato Institute Web site:
http://www.cato.org/pub_display.php?pub_id=6502

Posted on June 14th, 2009 under Indonesia terhindar dari Krismon 1997-98 bila menerapkan Currency Board System • Tags: IMF masuk Indonesia bawa kunci gudang harta karun, IMF sebagai pilar Kapitalisme Global, Kesaksian Mr Kuroda Takumi, Letter of Intent Indonesia-IMF 15 Jan 1998, Pelajaran Sejarah bagi para Capres dan Cawapres 2009-2014, Soeharto tunduk pada IMF

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Politik Bunga Matahari

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada April 22, 2009

Senin, 20/04/2009 18:24 WIB

Politik Bunga Matahari
Dody Susanto – detikPemilu

Jakarta – Politik itu sepenuhnya adalah seni. Seni cara mengungkapkan aspirasi, keinginan dan menyatukan aspirasi-aspirasi (orang) lain mejadi satu kesatuan untuk mewujudkan isi dari aspirasi itu. Dalam seni ini sebenarnya lebih menggunakan isnting dari pada logika.

Boleh politik itu didefinisikan sebagai seni untuk mempengaruhi orang lain, seni memimpin dan menguasai, seni mengolah kelemahan menjadi kekuatan, seni meramu informasi setrategis untuk kekuasaan, seni menempa kewaskitaan dalam memimpin, dan seni lain sebagainya. Ada banyak buku mendefisikan politik itu seni anu dan seni itu. Namun, Seni politik itu bahkan lebih bersifat activism, tindakan langsung; bukan pemikiran saja. Walaupun dalam ranah politik pemikiran juga dinilai sebagai tindakan politik manakala disuarakan. Dalam kajian sosio-linguistik pun pemikiran dianggap tindakan, manakala ia telah dibahasakan (disuarakan). Bukannya hanya pikiran yang dipikir-pikir saja. Dalam politik Apa yang menjadi pikiran ya dikerjakan. Apa yang diprogramkan partai ya dikerjakan, tidak hanya berupa macan kertas.

Begitulah seni politik, ketika sudah ditindakkah dan dilakukan baru kemudian muncul ilmunya, turunan metodisnya dan analisis-analisisnya. Tidak mungkin ada analisa politik dari seorang pengamat politik, jika tindakan politik itu sendiri belum ada. Maka dari itu dunia politik adalah dunia kewaskitaan mengolah insting, bukan logika dulu—logika itu baru datang setelahnya. Logika dalam politik hanya sebagai pembetul kedudukan-kedudukan politik dalam sikap politis. Karena politik itu sendiri tujuannya mulia, baik dan benar bagi banyak orang. Politik itu sendiri bersikap luwes, lentur dan mudah diatur—karena tidak bertujuan menciptakan keruwetan-keruwetan (kesulitan) dalam melangkah dan langkah-langkah program partai, misalnya; atau pemerintah dalam contoh sekala luasnya.

Fenomena SBY dan PD

Beberapa hari yang lalu kita sudah menjalani demokrasi elektoral yang dikemas dalam pemilihan caleg dari berbagai partai politik. Fenomena pemilu terbuka, langsung, umum, bebas, jujur, adil dan setara ini benar-benar kita rasakan bersama semenjak pemilu 2004 yang lalu. Pemilu sebelum-belumnya baru LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) saja. Kemudian JURDIL (jujur dan adil), tapi tidak setara. Sebab para caleg ditentukan oleh elit politik partai, atau bahkan pemerintah sendiri setelah dikonsultasikan, bukan rakyat/warga negara secara langsung. Inilah fenomena baik dalam dua pemilu ini yang pantas diembeli ‘satara’. Semua warga berhak memilih dan menentukan sendiri para calon legislatif yang menjadi wakilnya di parlemen. Yang tak lain itu merupakan hak setara dalam sikap politik.

Fenomena yang lebih menarik dari pemilu kedua ialah SBY dan Partai Demokrat. Partai tengah yang berdiri tahun 2001 yang lalu begitu saja muncul sebagai partai besar nasional mendampingi beberapa partai lama lainnya. Alangkah menariknya pula, saat demokrasi elektoral pemilu ini Partai Demokrat mengungguli partai-partai lainnya, dengan kemenangan yang hampir sempurna. Gejala apakah ini?

Susilo Bambang Yudhoyono (yang akrab disapa SBY) menjalani seni politik yang anggun dalam membesarkan partai ini keluar, dan kedalam seraya mendidik kader dengan sikap bernas dalam berpolitik, santun dalam tindakan, jujur dalam mengelola kelemahan dan kekuatan sendiri. Hingga teranglah dalam seni politik ini, SBY lebih menggunakan insting yang intuitif (mendekati sikap wisesa; wasis dan rumangsa kata orang jawa). Kemudian apa yang diterima dirinya melalui insting-intuitif itu dikelola dengan logika dan mesin politik yang benar; yang mampu menyerap semua aspirasi dari segala arah dari segala warna yang berbeda-beda. Kita bisa lihat hal ini dalam program-program politik pemerintah baik dalam kebijakan-kebijakannya ataupun dalam langkah-langkah pendeknya. Memang memesona untuk dilihat, karena ini (tindakan dan sikap politik SBY sebagai representasi pemerintah) adalah cara dan usaha mengatasi tantangan pemerintahan dan ujian politik dari kawan maupun lawan. Kita sebagai warga sekaligus rakyat merasa tepat memiliki pemimpin yang menggunakan “insting lalu logika” ini di kala perubahan arah politik nasional dan global serta kondisi sosial sedemikian rupa. Ingat saat awal SBY memerintah, negeri ini tak sudah-sudahnya dirundung malang dan duka akibat bencana alam dan ulah manusia (beberapa kecelakaan transportasi dan lumpur lapindo). Dan di jelang akhir periodenya dicegat krisis keuangan internasional yang bermula dari AS.

SBY memang punya ide dan cara sendiri untuk mendorong roda pemerintahan. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin terdahulu. Sistematika berpikir dapat dijumpai dan diikuti dalam setiap bahasa pembicaraan dan (apalagi) pernyataan-pernyataannya yang bersifat serius. Cara-cara seperti ini tetap dikemukakan, dan dikedepankan di hadapan publik, dalam pergaulan maupun pemerintahan. Sebab itu adalah ukuran-ukuran umum yang dapat diterima semua kalangan. Entoch cara-cara itu berbungkus insting dan intuisi yang kuat. Sehingga bahasa (suara)nya tidak emosionil, gegabah, atau ngawur kata orang jawa. Inilah ilmu politik atau seni politik Bunga Matahari a la SBY.

Politik Bunga Matahari

Inspirasi Bunga Matahari seakan menjadi idiomatika tindakan dan sikap politik SBY,—Bunga Matahari ini murni peristilah yang dipakai penulis untuk penyederhanaan penggambaran sikap dan tindakan politik itu. Bagaimana peta situasi politik dan keteladanan SBY mengelola figuritas dengan tepat dan benar dalam situasi kepemimpinan politik dalam partai dan pemerintahan mengarah pada satu pola kepemimpinan—yang tegas, berpikir jernih di tengah kekeruhan suasana, bernas, jujur pada kemampuan dan kelemahan (yang berbalik menjadi kekuatan), tidak tergesa dalam sikap dan menerima perubahan dengan cepat. Figuritas ini berbanding lurus dengan sikap politik partai yang tidak menggunakan ‘aji mumpung’.

Politik Bunga Matahari ialah bersikap aspiratif terhadap datangnya tuntutan-tuntutan mendesak, yang bersifat aksidental (seperti akibat bencana) atau permanental; seperti kebijakan-kebijakan pro-rakyat, manakala melihat kondisi sosial ekonomi rakyat tergerus oleh krisis keuangan internasional. Kebijakan-kebijakan pro-rakyat itu antar alain: PNPM, BOS, Raskin, BLT, KUR, dll. Sebagai mana bunga matahari ia selalu menghadapkan diri ke arah sumber cahaya untuk menyerapnya sebagai proses fotosintesis, dimana ini berarti menyikapi keadaan dan meramu kekuatan dan kelemahan menjadi satu tindakan solutif demi kebaikan bagi banyak pihak. Beginilah kepemimpinan dalam kondisi krisis dan tantangan yang bertubi datang silih berganti. Itulah pula siasat yang dalam arti lainnya adalah politik untuk menghadirkan cara-cara dan usaha yang mudah dan memudahkan meraih kesejahteraan bagi rakyat.

Politik Bunga Matahari adalah bagaimana memerankan fungsi sensor cahaya untuk menangkap pesan kehidupan, untuk meramu kelemahan dan kekuatan menjadi kemampuan memecahkan masalah, dan memimpin dengan budi pekerti. Ini insting politik yang dimainkan oleh SBY, saya kira. Dimana setiap ‘pekerjaan politik’ tidak menunggu ditunda untuk dilaksanakan. Sehingga wajarlah menemukan semboyannya dengan satu kata “Lanjutkan!”. Begitulah kerja politik bersinambung demi kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

*Penulis adalah pengamat sosial-budaya

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Hantaman Krisis Ekonomi, Ken Karpman dari CEO menjadi pengantar Pizza

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Maret 22, 2009

Ken Karpman: From CEO to Pizza Delivery Man

From CEO to Delivering Pizza Video


http://www.mefeedia.com/entry/from-ceo-to-delivering-pizza/15635580

Posted using ShareThis

You know the recession is in full swing when a CEO goes from $750,000 a year to a measly $7.29 an hour as a pizza delivery man. A former CEO of his own hedge fund, Ken Karpman went bankrupt and lost more than $500,000 of his own investment during the credit crisis.

There are no results for pizza. After taking a line of credit on his house to fund his business, he tried to pay back his debt with no source of income. Desperate for work he decided to apply at a Mike’s Deli and Pizzeria, after a potential bartending gig fell through. Although, extremely over qualified, the pizza owner gave him a chance. Karpman, an MBA from UCLA and former stock trader is fairly positive about his new position and looks to it as more of a growing process. At times, he finds himself delivering pizza to former colleagues and employees, but he doesn’t really let it get to him. Although understanding, Karpman’s wife puts most of the blame on him since he left his high paying job to start his hedge fund endeavor. He gladly accepts the blame and understands his faults. I must say, even though this isn’t the prettiest story ever, there’s a sense of realism and humility that makes you appreciate what you have.

Ditulis dalam ekonomi | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

From CEO to Delivering Pizza Video

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Maret 22, 2009

From CEO to Delivering Pizza Video

http://www.mefeedia.com/entry/from-ceo-to-delivering-pizza/15635580

Posted using ShareThis

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Lyrics dan video lagu “We will not go down (Song for Gaza)”

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Februari 2, 2009

Text lagu We will not go down (Song for Gaza)
Lyrics:

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In the night, without a fight

We will not go down
In Gaza tonight

Ditulis dalam palestine | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

Download daftar Caleg Dapil Jatim, Jateng, Sumbar

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Januari 17, 2009

Ditulis dalam caleg | Bertanda: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

UFO di Langit Jakarta, RCTI, 8 Desember 2008

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Desember 12, 2008

Dikabarkan bahwa sebuah benda asing atau biasa dikenal unidentified flying object atau lebih dikenal dengan nama(UFO) terlihat di Jakarta.

Fenomena ini terekam dalam sebuah kamera yang dikirimkan pemirsa RCTI pada Senin 8 Desember kemarin.

Video berdurasi singkat tersebut menggambarkan sejumlah titik cahaya dan bergerak beliuk-liuk di langit malam Jakarta.

Dalam video tersebut juga menggambarkan, cahaya tersebut bergerak memutar dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

Link Berita Ekonomi, Laba BRI naik 17.3 persen, bank terbaik Indonesia

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Desember 8, 2008

BI Setujui BPI Jadi Bank Syariah Bukopin

JAKARTA, JUMAT – Usai sudah penantian PT Bank Bukopin Tbk untuk memiliki anak perusahaan yang menyandang status bank umum syariah. Bank Indonesia (BI) telah menyetujui perubahan status Bank Persyarikatan Indonesia (BPI), anak Bukopin, dari bank umum jadi bank umum syariah. BI juga telah mengizinkan perubahan nama BPI menjadi Bank Syariah Bukopin.
Direktur Direktorat Perbankan Syariah [...]

Laba BRI Naik 17,13 Persen

JAKARTA, JUMAT – Laba Bank BRI naik menjadi Rp 4,238 triliun pada triwulan III 2008 atau mengalami peningkatan sebesar 17,13 persen dibandingkan dengan perolehan laba pada periode yang sama tahun 2007 lalu sebesar Rp 3,618 triliun.
Hal tersebut disampaikan Direktur Kepatuhan BRI Bambang Supeno, saat jumpa pers, di gedung BRI, Jakarta, Jumat (31/10).
“Kenaikan ini [...]

Pungutan Ekspor Nol Persen

JAKARTA, JUMAT – Pungutan Ekspor (PE) nol persen berlanjut hingga harga minyak sawit mentah (CPO) mencapai 700 dollar per ton. Pemberlakuan PE nol persen itu berlanjut, tidak hanya sampai November tahun ini,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Jumat (31/10).
Sampai kini, harga CPO masih di posisi rendah, di kisaran Rp350 per kilogram. Sebelum krisis perlambatan [...]

Negara Berkembang di Ambang Krisis Nilai Tukar

Negara-negara berkembang yang perekonomiannya tengah bertumbuh (emerging markets) menjadi titik panas (hot spot) baru yang berpotensi besar meletupkan babak baru krisis global yang lebih berbahaya: krisis nilai tukar mata uang.
Di Eropa Timur, krisis nilai tukar dibarengi dengan risiko gagal bayar utang yang berpotensi menyeret perbankan negara maju dan perekonomian global ke dalam krisis lebih buruk [...]

Dulu Cuma Lihat-lihat, Sekarang Bertransaksi

JAKARTA, JUMAT — Sebelas negara pasar nontradisional ekspor Indonesia pada Pameran Perdagangan Indonesia (TEI) 2008 kini bertransaksi. Pada penyelenggaraan sebelumnya, buyer asal negara-negara itu cuma hadir melihat-lihat.
“Ini perkembangan positif TEI 2008,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Jumat (31/10).
Berikut transaksi 11 pasar nontradisional tersebut. Zimbabwe bertransaksi 5,02 juta dollar AS, Uganda (2,88 juta dolar AS), [...]

Syahril Sabirin Prihatinkan Kondisi BI

JAKARTA, JUMAT- Mantan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin mengaku prihatin terhadap kondisi bank sentral Indonesia. Terlebih setelah ditetapkannya empat mantan deputi gubernur BI sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terkait kasus aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) senilai Rp 100 miliar.
Keempat deputi gubernur BI tersebut adalah Aulia Tantowi Pohan, Aslim Tadjuddin, Maman H. [...]

BBM Turun Setelah Harga Pertamax di Bawah Premium

BEKASI, JUMAT – Pemerintah akan menurunkan harga BBM bersubsidi setelah harga pertamax atau premium nonsubsidi berada di bawah premium bersubsidi yakni Rp 6.000 per liter.
Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Bekasi, Jumat (31/10) , mengatakan, pemerintah tidak mau harga pertamax di bawah premium bersubsidi. “Saya kira itu betul-betul yang menjadi pertimbangan untuk turunkan BBM,” katanya.
Namun, [...]

Beberapa Fraksi Mengusulkan Premium Turun

JAKARTA, KAMIS – Pemerintah sudah memberi sinyal akan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) kendati belum diumumkan berapa persentase penurunan harga BBM yang ideal. Di kalangan fraksi DPR RI sendiri terjadi perbedaan pendapat berapa persen penurunan harga BBM (premium, solar, dan minyak tanah) yang ideal.
Perbedaan pendapat muncul dari dua fraksi di Dewan yakni Fraksi PAN [...]

Siapakah pemenang Pemilihan Presiden amerika Serikat

ANTARA :: Politik Rasis di Pemilu Amerika Serikat
Apakah seorang kulit hitam di Gedung Putih (garis bawahi kata Putih) akan … Jika Obama menang bulan depan dan masuk Gedung Putih, berarti diperlukan waktu …

Jika McCain menang tak lain hanya Karma Obama « Indonesia Feminist …
- [ Terjemahkan laman ini ]
10 Sep 2008 … Orang dengan [...]

15 Broker Terancam Disuspensi

JAKARTA, KAMIS – Aktivitas perantara pedagang efek 15 perusahaan sekuritas terancam dihentikan sementara atau suspensi. Gejolak yang terjadi di pasar modal belakangan ini telah mengakibatkan modal kerja bersih disesuaikan perusahaan sekuritas tersebut mendekati batas minimal yang ditetapkan otoritas bursa.
Berdasarkan data yang dimiliki Bursa Efek Indonesia (BEI) per 29 Oktober 2008, dari 121 perusahaan sekuritas yang [...]

Ditulis dalam ekonomi | Bertanda: , , | Leave a Comment »