Oleh: Syafedi Syafei Ph.D
Artikel yang sangat menarik dari Ninok Leksono. Seharusnya pemerintah memberikan motivasi dan stimulus ke bidang teknologi Informasi ini. Tetapi kenyataannya dari perkembangan sejarah Indonesia banyak hal yang dilakukan adalah bersifat unmotivated dengan kebijakan yang tidak bijak dan merugikan. Seharusnya stimulus yang diberikan bukan bersifat BLT seperti projek Block grand Dikti kemaren ini.
Banyak kebijakan pemerintah bersifat instan, dan tanpa pikir panjang. Masih ingatkah kita zaman Soedomo menjadi menteri tenaga kerja. Melalui kebijakannya semua pabrik IC angkat kaki dan ditutup di Indonesia. Pada zaman itu pembuatan IC membutuhkan tenaga kerja (umumnya wanita) yang harus melihat setiap Chip IC dibawah microscope, apakah ada debu (rusak) atau tidak, kebetulan zaman saya mahasiswa, jurusan Fisika UI pernah berkunjung ke salah satu pabrik IC ini di daerah Cibinong. Karena perkembangan teknologi perusahaan ingin mengganti tenaga kerja ini dengan robot. Soedomo tidak mengizinkannya, maka mereka memutuskan angkat kaki dari Indonesia.
Pada waktu pabrik chip IC ada di Indonesia, banyak peneliti bahkan mahasiswa bisa mendesain rangkaian electronik dan mencetaknya dalam bentuk IC. Pada zaman itu LEN (lembaga Elektronik Nasional) dibawah LIPI berjaya. Mereka dibiarkan bebas berkreasi, kemudian ada intervensi dari atasan terhadap lembaga, yang bersifat pemasungan terhadap kreativitas mereka. Dan sekarang, LEN masih adakah? Dampak penutupan pabrik IC dan pamasungan atas kreatifitas karyawan LEN oleh atasan dapat kita rasakan sekarang. Tidak ada satupun pabrik telpon celluler di Indonesia. Kalau kita buka case komputer, tidak ada satupun chip IC made in Indonesia. Dulu masih kita temukan “made in Indonesia Inside” the case
Pernahkah anda mengenal Ahira? Barangkali tidak banyak yang mengenalnya. Dia adalah seorang Blogger, yang memanfaatkan Internet untuk cari uang. Usaha ini dilakukan mulai sewaktu mahasiswa dengan kunjungan yang intens ke warnet. Dia memanfaatkan Google Adsense untuk cari uang.dan menjual ilmu SEO (Search Engine Optimatization) agar webpagenya muncul di halaman pertama mesin pencari google.
Sebenarnya, tidak perlu terlalu jauh mencari sukses story ala Ahira. Disini di PPIN, BATAN. Beberapa teman mendapat pendapatan sampingan ada yang mencapai Rp 3 jt/bulan rutin, hanya dengan mengisi iklan-iklan di satu website. Saya sendiri semula bergabung dengan niat membantu bisnis kawan. Setelah menjadi anggota, tidak ada aktifitas pengisian iklan. Tetapi akhirnya saya lakukan juga, hanya pada waktu bulan Okt, Nov, dan Des 2008, setelah itu boleh dikatakan tidak pernah lagi pengisian iklan. Sekarang saya memperoleh Rp 200 rb- Rp 400 rb/bulan.
Saya membayangkan jika banyak anak bangsa yang mempunyai keahlian seperti Ahira, atau Djoko yang mengerti SEO dan programming untuk menambahkan keyword ke webpage, serta trick-trick lainnya. Indonesia akan sangat maju dalam bisnis internet. Kenapa kita tidak mendidik anak bangsa tentang bisnis internet ala persipan TOFI (olimpiade Fisika). Saya dapat membayangkan beberapa tahun ke depan, Anak bangsa Indonesia mempunyai website dalam berbagai bahasa yang mempunyai rank atas dalam alexa.com. Melalui google adsense, pendapatan akan lebih besar apabila website dalam bahasa Inggris. Karena pemasang iklan melalui “adword google” dalam bahasa Inggris (perusahaan asing) membayar iklan lebih mahal.
Saat ini iklanmax.com, yang dikembangkan Djoko dari PPIN mempunyai rank di Indonesia mendekati no 100, dengan kunjungan mencapai 70.000 s/d 100.000 pengunjung sehari. Bulan kemaren dia menunjukkan cek senilai $ 3.700 hanya dari google adsense. Anak muda yang kreatif ini juga mempunyai penghasilan dari website lain, termasuk dari amazon.com. Saya cukup mengenal kemampuannya, karena pernah saya ajak pada projek di depertemen yang menelan biaya milyaran rupiah. Barangkali ujud projek tersebut sekarang ini tidak berbekas?
Kenapa tidak dibentuk suatu lembaga/wadah agar anak bangsa dapat saling berbagi ilmu dalam teknologi internet dan bisnis Internet? Wadah yang menyebarkan ilmu, menghimpun anak muda berbakat, dan mendata statistik bisnis internet.
Dimana hasil akhirnya jelas Dollar. Beberapa tahun ke depan diharapkan akan ada website hasil karya anak bangsa se kaliber Amazon.com , Ailbaba.com , bahkan yahoo.com Saya pernah berbicara dengan Djoko, dia siap berbagi ilmu. Tetapi, tentu saja tidak ada yang gratis di dunia ini, hal yang gratis adalah bentuk unmotivated. Kalau perlu biaya pelatihan lebih besar, agar motivasi anak muda berbakat ini dan Djoko-djoko yang lainnya akan lebih besar untuk berbagi ilmu. Bentuk stimulus semacam ini akan jauh lebih baik untuk masa depan Indonesia, bukan cara BLT dalam bentuk block grant
wass,
Syafedi Syafei Ph.D
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/06/22/ 03095268/ jejak.naga. silikon.dan. masa.depan. ekstrem.
Jejak Naga Silikon dan Masa Depan Ekstrem
Senin, 22 Juni 2009 | 03:09 WIB
ninok leksono
Tatkala mendengarkan kuliah Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu tentang ekonomi kreatif di Universitas Multimedia Nusantara, di Serpong, 5 September 2008, tumbuhlah persepsi bahwa inilah jenis ekonomi yang akan dikembangkan di Indonesia. Aktivitas di 14 bidang industri kreatif unggulan diharapkan mampu menggairahkan perekonomian Indonesia, menghasilkan pendapatan dalam orde ratusan triliun rupiah per tahun.
Pemikiran tersebut masuk akal, didasarkan pada keunggulan komparatif dan kompetitif. Komparatif, karena bak sumber daya alam, tradisi membatik atau seni kriya, misalnya, telah lama menjadi bagian dari budaya kita. Kompetitif, karena—mengikuti tesis Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat (2006)—dunia kini berada dalam equal playing field akibat globalisasi dan proliferasi teknologi-informasi -komunikasi (TIK).
Berikutnya, seperti diamati para futuris, ekonomi kreatif— sebagian lebih suka menyebut ekonomi inovasi dalam skop lebih luas—merupakan faktor survival kritikal bagi bangsa-bangsa.
Bab ketiga buku The Extreme Future karya James Canton (2006) dikhususkan untuk membahas ekonomi inovasi, khususnya dalam upaya baru menggapai kemakmuran. Di sana antara lain diuraikan 10 tren pembentuk ekonomi inovasi—yang pertama tertulis dalam kutipan di awal tulisan ini—yang penting untuk disimak dan diuji.
Ketika menyinggung kendala yang dihadapi Indonesia dalam upaya mengembangkan ekonomi kreatif, Menteri Mari Pangestu menyebutkan (dalam Ajang Indonesia ICT Awards, Jakarta 8 Agustus 2008) bahwa pasar ekonomi kreatif hanya akan terbentuk jika punya tingkat literasi (TIK) tinggi dan sebesar-besarnya masyarakat mengakses teknologi ini.
Keadaan di Indonesia memang belum sepenuhnya menggembirakan. Kesenjangan digital, yang antara lain ditandai rasio kepemilikan PC/laptop dibandingkan jumlah penduduk, yang lebih kurang baru 10 persen, dan penetrasi akses internet yang baru sekitar 15 persen, termasuk masih lebar. Katakan teknologi mobile/seluler memperbesar potensi di atas, dari segi jumlah pengguna—yang sekarang sekitar 125 juta—mungkin memberi peluang. Namun, tren yang ada memperlihatkan perlengkapan telepon seluler canggih lebih banyak digunakan untuk aktivitas sosial daripada pengetahuan, sampai muncul kekhawatiran meluasnya simptom continuous partial attention atau attention deficiency syndrome, yang merujuk pada kesulitan untuk berkonsentrasi karena tingginya aktivitas multitasking.
Padahal, ketersediaan dan akses TIK baru satu faktor. Menurut Canton, pendirian ekonomi inovasi juga harus diiringi ”kebebasan berpikir, kebebasan pasar, dan kebebasan berusaha”.
Kita tak harus berkecil hati karena China—yang sekarang rakyatnya masih belum bebas akibat masih dianutnya sistem komunis yang membelenggu— ternyata juga bisa mengembangkan ekonomi inovasi. Apabila Canton hanya menjadikan China sebagai satu bab dalam The Extreme Future, jurnalis finansial Rebecca Fannin memperlihatkan upaya China memenangi perlombaan teknologi, khususnya TIK, saat ini (Silicon Dragon, terjemahan BIP, 2009).
Mengomentari tulisan Fannin, Managing Director The Carlyle Group David Rubenstein mengatakan, China kini menjadi penantang terbesar AS sebagai pemimpin inovasi teknologi dan peluang investasi. Sementara penulis Om Malik meyakini China akan menjadi pusat inovasi di masa datang.
Uraian Fannin menyiratkan dunia memang akan hidup di bawah bayang-bayang Naga Silikon, dan masa depan ekstrem yang dikemukakan Canton juga akan kental mewarnai peradaban masa datang. Dalam konteks ini, memadaikah upaya pemerintah sejauh ini?
Daya inovasi
Kalau memang kunci bagi masa depan adalah inovasi, siapkah masyarakat Indonesia memasuki era ini?
Mengintip cetak biru perencanaan iptek nasional seperti yang dilakukan di Dewan Riset Nasional misalnya, memang di sana ada wacana pengembangan pemanfaatan TIK di pedesaan melalui sistem dengan judul yang mantap, yakni Rural—Next Generation Network. Tapi perlu kita pantau bersama apakah sistem ini sudah dicapai tahun 2008, dan dengan itu ”kesenjangan digital” yang ada teratasi seperti dijanjikan dalam Agenda Riset Nasional 2006-2009?
Hal sama bisa dipertanyakan dengan rencana besar seperti Palapa Ring yang ditujukan mengintegrasikan layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia, terutama untuk menutup wilayah Indonesia bagian timur yang relatif masih banyak yang menganga.
Seiring Palapa Ring, ada pula rencana menyediakan akses telekomunikasi bagi seluruh desa di Indonesia sehingga equal playing field tidak saja berlingkup global, tapi juga diwujudkan dalam lingkup nasional.
Hanya saja, semua yang kita lakukan sejauh ini memang masih menyentuh bagian dasar dari inovasi yang ingin kita rebut, karena yang coba ditanggulangi baru pada sisi fisik dan teknikal. Bagaimana daya inovasi individu—sebenarnya juga pada perangkat pelaksana negara seperti pemerintah—yang akan memainkan peran penting dalam transformasi membangun masyarakat berbasis pengetahuan?
Sebagai catatan, Pemerintah Indonesia sering masih dinilai tidak konsisten, misalnya di satu sisi mempromosikan cita-cita membangun masyarakat berbasis pengetahuan, yang harus ditopang tersedianya akses TIK yang terjangkau, tetapi ternyata tarif internet relatif mahal dibandingkan dengan negara berkembang lain.
Tampaklah, memang ada persoalan besar dalam upaya bangsa Indonesia meraih teknologi dan menjadikannya sebagai daya saing. Teknologi yang sulit— misal teknologi pertahanan, seperti sering disampaikan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono—banyak yang telah dapat dikuasai. Yang belum dikuasai di sini adalah ilmu manajemen atau mengelola urusan sehingga semua hal beres seperti dicita- citakan. Dalam kaitan ini pula kita bisa mengingat hambatan inovasi yang dikemukakan M Sahari Besari dalam bukunya, Teknologi di Nusantara—40 Abad Hambatan Inovasi (2008)
Jika kita bangsa pembelajar, sesungguhnya munculnya Naga Silikon di dekat kita, atau peringatan seperti masa depan ekstrem—ditandai antara lain dengan ekonomi jenis baru—mestinya kita sekarang sudah bangkit, gregah-gregah, menyongsongnya. Kita terus bergulat, bagaimana merespons ekonomi yang komponen utamanya adalah bit, atom, neuron, dan gen?
Kalau semua terdengar masih asing—nun jauh di sana (arcane), berarti itu pekerjaan rumah bagi masyarakat Indonesia. Eranya adalah masyarakat berbasis pengetahuan, ekonominya ekonomi inovasi/ekonomi berbasis pengetahuan, tetapi fenomenanya belum kunjung hadir di sini.
Kalau reformasi belum mampu membangun masyarakat berbasis pengetahuan, menurut Yasraf Amir Piliang (dalam Reinventing Indonesia, 2008), itu karena institusi negara yang terkait pengembangan pengetahuan, sains dan teknologi, seni dan kebudayaan pada umumnya sejauh ini berjalan sekadar memenuhi anggaran, tidak mempunyai ”roh” pengetahuan dan dorongan pencapaian, serta tidak mampu menularkan ”spirit pengetahuan” pada kalangan masyarakat luas.
Tapi, seguimos adelante. Maju terus, kita tidak ingin menyerah pada keadaan