Jendela Indonesia

Motivate young generation to be success in internet era

Hati-hati Pak, kata bagian Penagihan SCB

Posted by jendelaindonesia pada April 27, 2011

Pinjaman KTA SCB saya kembali bermasalah. Dari informasi sebelumnya masa pinjaman saya akan berakhir pada bulan Februari 2011.

Saya mencoba mengontak kostomer service, tetapi sangat sulit sekali mendapat kesempatan untuk bicara dengan kostomer service. Baik karena sistem menu answering machinenya, maupun karena waktu yang dibutuhkan untuk bisa terhubung dengan CS sangat lama. Dan kalaupun dapat berbicara dengan CS informasi yang saya inginkan tidak diperoleh. Menurut CS, sistem SCB tidak memungkinkan mendapatkan data kta costomer dalam bentuk surat (print out) ataupun email. Saya tidak terlalu percaya akan hal ini. Mungkin kah Bank Internasional mempunyai sistem seperti in? Costomer tidak bisa memperoleh data utangnya sendiri?

Karena keinginan yang kuat untuk mengetahui waktu jatuh tempo berupa data formal dari SCB yang tertulis ataupun melalui email, maka pada bulan Januari, saya melakukan pembayaran hanya sejumlah Rp 700 rb, seperti yang saya harapkan SCB menghubungi saya. Maka saya jelaskan keinginan saya untuk mendapatkan data tersebut. Tetapi, mereka tetap ngotot tidak bisa mengirimkannya. Malahan timbul persoalaan baru, yaitu sistem pinalti, telp dengan nada suara, dan kata-kata yang tidak bagus dari bagian penagihan dan debt collector. Intinya, kostomer selalu dalam posisi yang salah, dan dirugikan.

Karena tidak tahan berhubungan dengan bagian penagihan, akhirnya, saya mengalah, saya lunasi sampai dengan bulan Maret sesuai dengan keterangan lisan mereka tentang cicilan akhir, dengan kelebihan sekitar 35 rb.

Tetapi, ternyata persoalan belum selesai. Setelah saya lakukan pembayaran, pegawai SCB yang mengaku bernama Chico menghubungi saya, bapak masih kekurangan 300 ribuan lagi. Nada suaranya seperti biasa tidak enak dikuping. Saya akan sampaikan masalah ini di Internet, kata saya. Tetapi dengan nada suara seperti ancaman, walaupun kata-katanya bagus, dia mengatakan: HATI-HATI PAK

Saya tidak tahu makna dari kata-kata tersebut, Dan saya tidak tahu akhir persoalan ini, akankah biaya pinalti tersebut dimaafkan, atau malah akan membengkak terus.

Adakah hak perlindungan bagi customer di negara kita ini? Terlalu banyak keluhan costomer terhadap bank ini. Persoalan-persoalan kostomer dengan bagian penagihan dan debt collector sangat banyak.

Kejadian terhadap nasabah city bank, yang dipukul hingga meninggal hendaknya menjadi pelajaran bagi kita.

Sistem pinalti dengan denda yang sangat tinggi, dapatkah dibenarkan?

Bunga kartu kredit Indonesia yang mencapai 48%/tahun tertinggi di dunia, Bandingkan dengan Amerika hanya sekitar 18%/tahun, dan Australia hanya sekitar 13%/tahun. Padahal mata uang Indonesia menguat terhadap Dollar, beberapa bulan yang lalu $1 = Rp 9200, sekarang $1=Rp 8600.

Bunga kredit yang tinggi dan sistem pinalti yang menjerat nasabah perlu ditinjau oleh pemerintah Indonesia.  (SS)

Ini beberapa link, keluhan nasabah:

http://pipietsenjaa.blogspot.com/2011/01/kta-standard-chartered-denda.html

http://www1.kompas.com/suratpembaca/readtanggapan/21231

http://myzone.okezone.com/content/read/2011/01/27/4161/kecewa-dengan-kta-standard-chartered-bank

http://pmax777.com/article/64274/standard-chartered-bank-persulit-surat-lunas.htm

http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/03/15/hati-hati-kta-scb-awaaaas/

http://suarapembaca.detik.com/read/2010/05/05/090355/1351321/283/pembatalan-aplikasi-kta-standard-chartered

http://suarapembaca.detik.com/read/2008/04/14/145233/923141/283/janji-manis-kta-standard-chartered

http://suarapembaca.detik.com/read/2011/03/17/092651/1593885/283/merasa-dirugikan-standard-chartered-bank

http://suarapembaca.detik.com/read/2011/03/10/140110/1588702/283/merasa-dipermainkan-standard-chartered-bank

http://suarapembaca.detik.com/read/2011/02/14/182021/1571237/283/kta-standart-chartered-bank-tidak-jelas

http://suarapembaca.detik.com/read/2010/10/27/155113/1476746/283/standard-chartered-bank-arogan

http://suarapembaca.detik.com/read/2010/08/31/172329/1432229/283/informasi-tunggakan-standard-chartered-desember-2009-di-agustus-2010

Posted in kta | Leave a Comment »

WARNET GUE; HADAPI PESAING UTAMA DENGAN GAME ONLINE

Posted by jendelaindonesia pada Maret 21, 2010

WARNET GUE; HADAPI PESAING UTAMA DENGAN GAME ONLINE

Mar 8, 2010 MajalahFranchise.com, Jakarta-Salman Azis Alsyafdy, pemilik waralaba Warnet Gue, salah satu waralaba warnet yang baru berusia kurang dari setahun di Indonesia menenggarai, bahwa persaing utama industri warnet saat ini adalah pengguna internet pribadi. Untuk itu, perpaduan game online dan warnet menjadi sebuah keunggulan menarik pelanggan.

“Misalnya pengguna laptop yang hanya dengan modem saja sudah bisa menggunakan internet sesuka hati. Tetapi dengan game online, pelanggan lebih suka bermain game di warnet,” ujar dia kepada majalahfranchise.com, disela-sela pameran franchise, Jakarta.

Ia menambahkan, Warnet Gue juga memiliki beragam cara untuk menarik pelanggan, selain dengan game online, juga dengan menyediakan makanan dan minuman bagi pengunjung. Sejurus dengan itu, Warnet Gue lalu mendapat minat dari calon franchisee Indonesia, hingga kini telah memiliki tujuh franchisee.

Sementara penambahan waralaba, kata dia, akan membidik daerah-daerah di luar Jabodetabek, seperti di Jawa dan Sumatera. (Alan Jehunat).

Posted in warnet | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Jendela Indonesia guestbook July 1997

Posted by jendelaindonesia pada Februari 24, 2010

Tue Jul 1 04:52:09 1997
FP Tjandra Gunawan
No Comment!!! Tue Jul 1 05:49:47 1997

bakti(bagyo)
this page is really helpful…realy good. Tue Jul 1 21:46:25 1997

AGUS H H
GOOD JOB YOU DID Wed Jul 2 03:34:49 1997

Riva
Tambahin daftar ISP yang ada di Indonesia dong….Ditunggu loh, jangan cuma jadi saran yang ditampungdi… tong sampah aja :) Wed Jul 2 04:17:33 1997

Ade Chandra
Business yes-Invest Agriculture Palm Oil 90.000 Ha. Invest Hotel & Tourism USD 25.000.000 Manado Invest LG 200.000.000.000 YEN Invest Crude Oil from Yemen etc are welcome to e-mail address chachamm@hotmail.com Wed Jul 2 04:17:34 1997

Ade Chandra
Business yes-Invest Agriculture Palm Oil 90.000 Ha. Invest Hotel & Tourism USD 25.000.000 Manado Invest LG 200.000.000.000 YEN Invest Crude Oil from Yemen etc are welcome to e-mail address chachamm@hotmail.com Wed Jul 2 04:17:34 1997

Ade Chandra
Business yes-Invest Agriculture Palm Oil 90.000 Ha. Invest Hotel & Tourism USD 25.000.000 Manado Invest LG 200.000.000.000 YEN Invest Crude Oil from Yemen etc are welcome to e-mail address chachamm@hotmail.com Wed Jul 2 04:17:35 1997

Ade Chandra
Business yes-Invest Agriculture Palm Oil 90.000 Ha. Invest Hotel & Tourism USD 25.000.000 Manado Invest LG 200.000.000.000 YEN Invest Crude Oil from Yemen etc are welcome to e-mail address chachamm@hotmail.com Wed Jul 2 11:04:05 1997

B.b
bagussssssssssssssss!!! Wed Jul 2 14:45:43 1997

Danny Leo Lukito
Jendela Indonesia pokoknya ok banget deh!!!!sekalipun gue ada di Indo, tapi gue bisa mendapatkan ilmu lebih dari homepage ini Hidup Indo!!!! Wed Jul 2 22:45:45 1997

Tatsutoshi Maeda
Selama sian sekalian. Kunarkan saya Maeda. Saya tingal di Bekasi, Indonesi dari 11/1996 sampai 3/1997. Sekarang, saya pelang ke Jepang.Tapi saya cinta Jakarta Indonesia banyak dan tidak bisa lupa Jakarta.Maka saya lihat page ini setiap hari.Saya mau tahu Jakarat Indonesia lagi-lagi.Karau anda ada berita menarikperhatikan,minta informasi untuk saya.Hari ini, saya coba kirim mail kesatu saya. Thu Jul 3 01:51:18 1997

julio
Thanks so much for providing a lot of information regarding Indonesia. It is helpfull while I am being far away from the home country. Would anyone like to share any experiences with me ? Thu Jul 3 02:17:28 1997

handoko
bikin tambah menarik dong! Thu Jul 3 06:06:28 1997

muklis
mudah-mudahan akan tambah bagus.silakan ngirim e-mail saya. mesti dibalas Thu Jul 3 12:41:09 1997

Prianggada Indra Tanaya
A good place to start browsing Indonesia …Especially for the news. Success !! Thu Jul 3 18:46:35 1997

aldi
bagi yang tertarik untuk mengunjungi homepagesaya, langsung aja ketik:http://www.public.asu.edu/~alditop/icg494/personal.html.Oh iya,….nice layout, keep up the good work!! Fri Jul 4 00:21:14 1997

vinda
Actually I’m looking for my friend back in primary school. Her name is MIA DARWITA. If anybody out there know anything about her please let me know. If you guys or gals wants to send email please do, I’ll be happy to know more friends. Fri Jul 4 21:29:46 1997

Janri
Boleh lah kau……….JI Sun Jul 6 03:51:47 1997

Johanna Clark
Menarik sekali! Sun Jul 6 15:11:24 1997

Imat Amidjaya
Yang saya hormati Pak Syafedi yang budiman:In the last year or so, every time I am on Jendela Indonesia, I would like to thank you and say that how fortunate Indonesians are to have this service which you have provided. Saya mengucapkan syukur kepada Allah karena telah dikarunia kesempatan mengenal Pak Syafedi Syafei. Terimalah ucapan terimakasih saya ini,Marilah kita saling membantu untuk meneruskan perjua-angan ibadah kita. Wassalam, Imat. Mon Jul 7 05:23:41 1997

Syukry Hadi
Terima kasih Jendela Indonesia. Melalui Homepage ini, Saya bisa dengan mudah menemukan majalah-majalah dan koran-koran dari tanah air. Tue Jul 8 05:59:09 1997

BISYRON WAHYUDI
“JENDELA INDONESIA” IS A REAL WINDOW TO VIEW INDONESIA Tue Jul 8 15:18:13 1997

Irwan Hidajat
Dapat mengikuti perkembangan tanah kelahiran walaupun saya jauh dari tanah air. Puas. Tue Jul 8 23:16:40 1997
Tom Langston
Wed Jul 9 01:06:26 1997

Budiman
Sangat bagus sekali Wed Jul 9 05:58:08 1997

Trimmel Susanti
great ……………. Wed Jul 9 09:41:26 1997

Miguel Xavier GonzalezMiguel Xavier Gonzalez
Your site is verry informative, but I’d likereally like to know how to find Ms. Nadya Hutagalung.The gorgeous Indonesian V.J. forMTV.If you have any info., please send word Wed Jul 9 12:32:58 1997

miki omori
saya mahasiswa jurusan bahasa Indonesia.tetapi di Jepang sangat susah mendapatkamus Indonesia. senang sekali saya bisamendapat itu. Terema kasih. Wed Jul 9 20:07:30 1997

Titie
Sangat bermanfaat sekali, apalagi bagi nggak sempet baca koran dikantor, so masih bisa duduk sambil browsing dari homepage yang ‘NO.1′ ini. Keep it better!! Wed Jul 9 20:27:13 1997

Titie
Coba donk…cicipi Indian food di HAZARA RESTAURANT, cuma ada satu lho di Wahid Hasyim yach!! OK. See you there Wed Jul 9 21:24:46 1997

marina pasaribu
all the best for jendela indonesia Thu Jul 10 01:48:00 1997

miki omori
Thu Jul 10 11:55:22 1997

Purnomo
Sangat menyenangkan bisa menemukan sesuatu yang berbau Indonesia di negeri orang. Thu Jul 10 22:33:16 1997

Yogi Indra Gunawan
Terimakasih.Kalau mau kenalan kirim e-mail aja ke saya Fri Jul 11 03:39:03 1997

Fryatna
Its helpfull line Fri Jul 11 03:42:00 1997

Fryatna
Its helpful line mate! Fri Jul 11 03:51:40 1997

Bonanza Freeman
Put also the way to make Indonesian food donk… Fri Jul 11 03:56:31 1997

Fryandi Taslim
Emang ngebantu banget nih si Jendela Indonesia, helpful aje lo… Sat Jul 12 21:10:12 1997

Alexander J. Wibowo
This page is very useful and helpful for Indonesian Students who need information about Indonesia. Thank you. Sun Jul 13 00:08:37 1997

mirza
oke jack!!!! Sun Jul 13 23:47:31 1997

Anita
Hi! Glad to meet many friends. Send me e-mail to atina@hotmail.comCatch up u later!!! Mon Jul 14 01:47:08 1997

Wawan
i like this pages to lookfor any information i need Tue Jul 15 13:12:13 1997

DOLF LATUMAHINA
Tue Jul 15 13:18:47 1997

DOLF LATUMAHINA
I’ve been over look this collum,sorry. I like your homepage keep develop and make it more attractive I’m sure lots of people should like and appriciat it. Well done ! Wed Jul 16 01:24:30 1997

salim riyanto
jendela indonesia siiippp… laaahh kalo bisa dicantumkan jurnal-jurnal penelitian khususnya dari universitas-universitas yang ada di Indonesia Wed Jul 16 09:29:57 1997

Eduar Muliawan
It’s getting better and better Wed Jul 16 17:28:49 1997

Aaron G. Halim
Sangat banyak jasa kalian, dengan penyuguhan surat kabar dari beberapa daerah termasuk Palembang. Fri Jul 18 02:20:25 1997

Tauchid Pradana
Very very good Sat Jul 19 22:30:01 1997

Dolf Latumahina
no comments for the time being Sun Jul 20 05:17:46 1997

jfasjfajf
jfajf Sun Jul 20 05:32:29 1997

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

CIC lebih agresif investasi stok di berbagai negara

Posted by jendelaindonesia pada Februari 8, 2010

Oleh: Syafedi Syafei Phd

CIC (China Investment Corporation) dengan agresif melakukan investasi di berbagai negara. CIC membidik perusahaan besar yang pada saat ini bermasalah dalam keuangan. Di Indonesia, CIC  “membantu” grup Bakri yang mengalami kesulitan keuangan. Akankah setelah bantuan ini, CIC akan memiliki sebagian share grup Bakri? Melihat kodisi market saat ini, hal ini kemungkinan besar akan terjadi.

Selain melalui dana CIC, grup Bakri juga melakukan usaha untuk menarik dana masyarakat melalui right issue beberapa perusahaannya yang listing di BEI, yaitu Energi (ENRG) dan DEWA. Dengan kondisi market yang kurang mendukung, sehingga harga saham di market pada saat right issue lebih rendah dari harga right issue, jadi kemungkinan besar masyarakat tidak menebus right issue tersebut. Jika masyarakat tidak menebus, kemungkinan besar CIC akan melakukan penebusan melalui market. Dengan cara ini maka CIC akan memiliki share perusahaan grup Bakri. Dan jumlah share CIC bisa saja akan lebih dari 50%.

Usaha CIC ini tidak hanya dilakukan di Indonesia. Sejumlah $ 9 billion CIC menanamkan dananya pada perusahaan besar Amerika sepertii Morgan Stanley, Bank of America dan Citigroup. Demikian juga pada negara lain seperti Canada dan Australia.

Langkah seperti ini juga sudah dilakukan oleh negara Singapore melalui “perusahaan negara” Tamasek. Setelah krisis tahun  1998 (kejatuhan Soeharto) Tamasek menguasai beberapa perusahaan besar Indonesia, seperti Telkom, Indosat, Bank Danamon, BII, dll.

Sistem Investasi Negara seperti yang dilakukan oleh China dan Singapore kemungkinan akan diikuti oleh negara lain. Kita tunggu munculnya nama-nama lain seperti CIC dan Tamasek dari negara lain. Kedepan, kita akan lihat sistem penjajahan ekonomi gaya baru, yaitu penguasaan perusahaan Indonesia oleh negara asing.

Berikut adalah artikel dari Newyork Times tentang sepak terjang CIC:

After Buying Spree, China Owns Stakes in Top U.S. Firms

by David Barboza and Keith Bradsher
Monday, February 8, 2010

provided by

http://finance.yahoo.com/banking-budgeting/article/108790/after-buying-spree-china-owns-stakes-in-top-us-firms?sec=topStories&pos=2&asset=&ccode=

Flush with cash despite the global economic downturn, China’s sovereign wealth fund quietly snapped up more than $9 billion worth of shares last year in some of the biggest American corporations, including Morgan Stanley, Bank of America and Citigroup.

Although most of the stakes were small, China Investment Corp., the government’s $300 billion investment fund, now owns stock in some of the best-known American brands, including Apple, Coca-Cola, Johnson & Johnson, Motorola and Visa.

More from NYTimes.com:

Asia Sails Smoothly Through Debt Waters

Once Again, Seeing the Shadow of Madoff

Some Toyota Owners Voice an Eroding Loyalty

The detailed list, which contained holdings totaling $9.6 billion as of Dec. 31, was disclosed Friday in a filing with the U.S. Securities and Exchange Commission; it lists stakes only in companies traded in the United States.

The filing offers a glimpse of how China is trying to diversify its more than $2 trillion in foreign currency holdings with stock, rather than investing almost entirely in U.S. Treasury bonds and other debt securities issued by governments and by government-sponsored enterprises like Fannie Mae.

Prime Minister Wen Jiabao of China and other officials have repeatedly expressed worry about how the country’s holdings of U.S. Treasury securities could be hurt by inflation or by mounting U.S. debt. By buying the securities of international companies, China is trying to spread its fast-growing wealth more widely. It is also seeking to acquire strategic stakes in companies that could feed its hungry economy with a wide range of commodities.

C.I.C., already one of the world’s largest sovereign funds, was formed in 2007 with about $200 billion. It now has assets of nearly $300 billion and, according to state-run news media, is expecting another large injection of funds.

A spokeswoman for C.I.C., which is based in Beijing, did not return e-mail messages or phone calls seeking comment. But analysts said the filing showed that the fund had invested only a small portion of its $300 billion in American stocks, and the fund seemed to be following a cautious strategy to diversify globally after initially having put its biggest investments into shoring up the capital of Chinese banks.

“This is still a relatively small amount compared to the total size of the fund,” said Chang Chun, a professor of finance at the China Europe International Business School in Shanghai.

The sovereign wealth fund got off to a rocky start in 2007 and early 2008 by acquiring a $3 billion nonvoting stake in the American private equity firm Blackstone and paying another $5 billion for a 9.9 percent stake in Morgan Stanley.

Shares of both companies plummeted in 2008 during the financial crisis, leading to a storm of criticism directed at C.I.C. But analysts say the fund performed well in 2009, particularly because it was buying aggressively as the market recovered.

More from Yahoo! Finance:

Get Used to Dow 10,000

15 Ways to Slash Spending in Retirement

The Deficit: How to Protect Yourself


Visit the Banking & Budgeting Center

Exactly when C.I.C. bought the shares of various companies was not disclosed in the filing. And C.I.C.’s acquisition of nonvoting units of Blackstone and its early stake of preferred shares in Morgan Stanley are not listed in the filing. The Blackstone and Morgan Stanley stakes are not listed, apparently because they are not traded equities.

The filing indicates that C.I.C. owns about $19 million worth of Bank of America stock, close to $30 million worth of Citigroup shares and about $333 million worth of shares in Visa, as well as holdings in various index funds.

The fund’s largest listed holdings were $1.7 billion worth of shares in Morgan Stanley and nearly $650 million worth of shares in BlackRock, the New York money management fund.

The Morgan Stanley stake was acquired last June, when the investment bank issued about $2.2 billion worth of common shares to help repay the U.S. government under the Troubled Asset Relief Program; C.I.C. acquired about $1.2 billion worth of shares at that time.

Some U.S. politicians in both parties have been nervous about China’s growing financial reach, and particularly wary that China might seek political influence in the West commensurate with its corporate stakes. Wariness in Washington flared four years ago when Congress discouraged Cnooc, a state-owned Chinese oil company, from buying Unocal.

Most sovereign wealth funds, with the exception of Norway’s, disclose few details about their holdings. But C.I.C. made its list available for the first time on the S.E.C.’s form 13F, which is filed quarterly by institutional investors and mutual funds in the United States.

Ben Simpfendorfer, an economist at Royal Bank of Scotland, said the Chinese sovereign wealth fund’s decision to disclose its holdings could limit concerns about secrecy in government holdings.

“This should help reassure politicians that Chinese sovereign wealth funds can take minority positions responsibly,” he said.

C.I.C.’s holdings outside the United States are substantial and growing. In Canada, it owns a $3.5 billion stake in Teck Resources, a mining and resources company listed in the United States, and a $1 million stake in Research in Motion, the maker of BlackBerry mobile phones.

The sovereign wealth fund has also been buying small stakes in Australia’s biggest banks and paid $646 million last autumn for a stake in Noble Group, a diversified commodities company based in Hong Kong with operations around the world in industries like iron ore mining and sugar mills.

Executives whose companies have accepted investments from C.I.C. tend to defend it as apolitical.

Richard S. Elman, the founder and chairman of Noble, said last month that C.I.C. executives had been businesslike in their approach to the investment.

“They are hugely commercial, and they want results,” he said. “They do not interfere in the day-to-day operations.”

Posted in ekonomi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

Masih percayakah kita dengan Wall Street?

Posted by jendelaindonesia pada Februari 8, 2010

http://finance.yahoo.com/loans/article/108787/will-we-ever-again-trust-wall-street.php

Will We Ever Again Trust Wall Street?
by Jason Zweig
Monday, February 8, 2010

provided by
wsjlogo.gif

For many investors, the market’s turbulence hasn’t just destroyed wealth. It has shattered their faith in the financial system itself.

Consider Philip Eberlin, 56 years old, who runs a woodwork-restoration business in Chicago Heights, Ill. Trading hot stocks a decade ago, Mr. Eberlin got burned on picks like Krispy Kreme and Tyco. In 2007 he got back into stocks, only to take another hit.

More from WSJ.com:

• Will New Rules Tame the Wall Street Tiger?

• Protecting Yourself From the Giant New Deficit

• Outlook: Where Will the Markets Go Next?

“Having been burned twice in 10 years,” says Mr. Eberlin, he now has about 80% of his family’s assets “protected from the market” in certificates of deposit and fixed annuities. “I don’t have trust in Wall Street to help the small investor in any way, shape or form.”

Mr. Eberlin isn’t alone. Late last year, Decision Research of Eugene, Ore., asked Americans how much they trusted bankers and other Wall Street leaders “to reduce the risk of the financial challenges the country is facing now.” On a scale of 1 to 5, with 1 meaning no trust at all, the rating averaged a paltry 1.7.

With such a loss of faith, how will companies be able to obtain the capital they need to expand? The foundations of the financial markets ultimately rest upon the confidence of mom-and-pop investors across the country.

But every investor has a fundamental need to believe that the world is just—that good people are ultimately rewarded, that bad people are eventually punished and that the system isn’t rigged to favor an undeserving few.

This belief in a just world is partly delusional; most of us realize that nice guys often finish last. But this delusion makes short-term setbacks endurable. “A belief that the world is fair and predictable is necessary in order for people to delay gratification and to make investments that will pay off in the long run,” says James Olson, a psychologist at the University of Western Ontario.

More from Yahoo! Finance:

• Fed’s ‘Exit Plan’ Is Just Another Secret Gift to Wall Street

• Consumer Protection Legislation in Doubt in Senate

• Jobless Rate Won’t Get Better in 2010
Visit the Loans Center

So when bad things happen, “people often prefer to blame themselves rather than believe they live in a chaotic and unjust world,” says Dale Miller, a psychology professor at Stanford University.After tech stocks crashed in 2000-2001, for instance, many investors kicked themselves for taking foolish risks.

This time around, however, many investors who followed the best advice were punished the worst. Someone who held a total-stock-market index fund lost more than 58% from October 2007 through March 2009 and remains 31% behind even after last year’s recovery.

These people can’t blame themselves; they did as they had been told. Meanwhile, they watched Wall Street firms parcel out billions in bonuses.

I believe the old truths remain valid: Buying and holding a diversified stock portfolio still makes sense. Paradoxically, as fewer people cling to their faith in traditional stock investing, the future rewards from it are likely to grow greater.

But that can take time. In 1952, two full decades after the Great Crash hit bottom, only 19% of wealthy Americans regarded stocks as the wisest investment choice, according to a Federal Reserve survey. Most investors thus sat out the great bull market of the 1950s, when stocks gained 19.4% annually.

How can faith be restored?

Wall Street firms need to be forthright in admitting their shortcomings. The more they protest their innocence, the more they make the typical investor feel that the financial world is unjust.

The Pecora hearings, held in the U.S. Senate in the 1930s, served partly as a form of public expiation, in which Wall Street’s leaders apologized for their firms’ conduct. The Financial Crisis Inquiry Commission, formed by Congress in 2009 and now holding its own hearings, may help investors feel that Wall Street can own up to its mistakes.

Finally, financial advisers need to be much less dogmatic and confident in their predictions. By admitting the extent of their own ignorance today, they would help prevent investors from feeling railroaded tomorrow.

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , , | Leave a Comment »

“Just Ordinary Americans”: Don’t Underestimate the Tea Party Movement

Posted by jendelaindonesia pada Februari 4, 2010

“Just Ordinary Americans”: Don’t Underestimate the Tea Party Movement

Posted Feb 03, 2010 07:30am EST by Aaron Task
Related: ^DJI, ^GSPC, SPY, TLT, TBT, GLD, UUP
Scott Brown’s victory in Massachusetts last month did more than just break the Democrats filibuster-proof majority in the Senate. It also brought the movement into the mainstream as the Tea Party played at least an indirect role in helping the Republican win.But what, exactly, is the Tea Party?

It’s hard to define by conventional means but Ben McGrath, staff writer for The New Yorker, says the Tea Party is a “marriage of two main strains” of conservative politics – libertarians and social conservatives. “People who would have voted Republican historically but don’t think of themselves as Republicans” anymore, having been frustrated by the big spending or international activism (or both) of the GOP during the George W. Bush era.

In a recent New Yorker article and the accompanying clip, McGrath takes pains to dispel the commonly held view that the Tea Party is a bunch of fringe radicals.

“Sure [you] might find one or two wacky people but they’re [mostly] just ordinary Americans who have a deep sense the country is going to a place they’re not comfortable with,” he says. “Something about the idea of a tea party [the] connection to the American Revolution has animated them, gotten them interested in civic engagement in a new way.”

McGrath also disputes the notion the Tea Party is being led by Glenn Beck, Sarah Palin, Dick Armey, Lou Dobbs, Rick Santelli or anyone else for that matter.

“There isn’t one leader and even those who might be indentified are really sensitive to the concern of followers there need not be a leader, should not be a leader,” he explains. “The Internet is the leader” much like with Moveon.org or the Obama campaign in 2008.

Because of the common misperceptions about the Tea Party, especially in mainstream media circles, McGrath says the movement is being underestimated as a powerful force in American politics, as we’ll discuss further in an upcoming segment. The First National Tea Party Conventions kicks off Thursday in Nashville.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Santa Cruz stories: Sjamsir Sjarif – Swimming is his life, one lap at a tim

Posted by jendelaindonesia pada Desember 18, 2009

Santa Cruz stories: Sjamsir Sjarif – Swimming is his life, one lap at a time

Sumber:

http://www.santacruzsentinel.com/localnews/ci_12030675

By Ann Parker – Sentinel correspondent
Posted: 03/30/2009 01:43:13 PM PDT

As is his birthday custom, Sjamsir Sjarif will swim 74 laps on his 74th birthday, April 18. (Shmuel Thaler/Sentinel)

On April 18, Sjamsir Sjarif will once again celebrate his birthday by swimming his age: one lap for each year. That means 74 laps this year, more than two miles. It’s a ritual he has performed on every birthday since he turned 47.

But it’s much more than just exercise.

“I’m not just counting laps,” Sjarif says. “I’m reviewing my life.”

He explains that when he first sinks into the water, he imagines being in the womb again. “Then I begin the first lap, the first year of my life.”

During his initial three circuits, Sjamsir says, he creates images from stories told by his mother. “The fourth lap starts the real memories of my life. And so on – until the last minute of that year.” His expressive face opens into a wide smile. “I feel peaceful in the water.”

Sjarif swam his first birthday laps in 1982 after a three-week class at Harvey West pool. “Before that, I just knew how to splash,” he chuckles, demonstrating. Now he always travels with his swimsuit and goggles, watching for a pool. His regular swim site, Harvey West, is closed this year; instead, Joe Schultz, director of Parks, Open Space and Cultural Services, has offered him complimentary admission to the Simpkins Swim Center on April 18.

Born in Indonesia, Sjamsir was the son of a grade school teacher. He followed in his father’s footsteps, earning a degree in education and history before teaching at the junior high level. After working several years in Indonesia as an
Advertisement
assistant to an American anthropology professor (from UC Santa Cruz) he came to America in 1966 and then earned his master’s in anthropology at the University of Illinois.

After Sjarif moved to Santa Cruz in 1975, he served 18 years as director of the Third World Teaching Resource Center at UCSC. He retired in 1994; since then he has been working as an interpreter, translator and cultural consultant for courts, libraries, hospitals and schools.

He also keeps busy and healthy at his gym, 24 Hour Fitness. “I do TKB (turbo-kickboxing) and zumba – I recommend that to anyone,” he says. “Also salsa and other dancing.” He laughs delightedly. “Often I’m the one man. I love that.”

Will Sjarif continue his yearly birthday swim? “Absolutely. All my life.” And considering that one of his father’s siblings lived to be 114, he may be in for a long swim.

Sjamsir Sjarif
Born: ‘April 18, 1935 – at 7:45 p.m. on a full moon – in Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia.’
Wife: Diah S. Sjarif, owner of Batik Cafe in Santa Cruz.
Children: Son Samudera, 19, and daughter Mutiara, 14. Both are swimmers.
Languages: Malay, Indonesian and Minangkabu (his ethnic group) and English, plus studying intensives in Spanish and Arabic.
Education: University of Andalas, Indonesia; UC Davis; University of Illinois.
His favorite sticker for swimmers: Just Add Water.
On inspiring others: ‘My doctor has started doing his own birthday swim.’
A life secret: ‘I’m never bored – I always have so much in my head.’
On pool swimming: ‘You’re peaceful but your mind talks.’
On ocean swimming: ‘My first time was my last time: I got a cramp and ended up in the ER.’

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , , , | Leave a Comment »

Alasan mengapa Waralaba Warnet Gue lebih baik dibandingkan dengan membuat warnet sendiri

Posted by jendelaindonesia pada Desember 14, 2009

Alasan mengapa Waralaba Warnet lebih baik dibandingkan dengan membuat warnet sendiri

Alasan mengapa kami bisa membantu Anda

1. Apakah anda ingin mempunyai penghasilan yang terus-menerus walaupun anda sudah tidak bekerja ?
2. Apakah anda ingin memiliki usaha yang 100% kepemilikan dan keuntungan milik anda ?
3. Apakah anda ingin mempunyai usaha yang dapat menghasilkan untung besar dan didirikan dengan biaya yang murah ?
4. Apakah anda ingin mempunyai usaha dengan sistem teruji dan support 24/7 ?
5. Apakah anda ingin mempunyai usaha yang memberi dampak kemajuan ilmu pengetahuan bangsa sekaligus memberi hiburan ?

Jika pertanyaan diatas anda jawab Iya, maka insya allah kami siap untuk membantu saudara untuk mewujudkan impian saudara tersebut melalui usaha kami di bidang teknologi informasi.

1. Sistem Warnet teruji

Dengan mengunakan system dari warnet anda akan memiliki sebuah system usaha yang sudah teruji selama lebih 5 tahun dengan cabang di 7 kota besar. Anda tinggal menjalankan panduan system yang telah kami buat sehingga akan memudahkan anda menjalankan warnet dan menghindari resiko kegagalan yang biasa dialami oleh pebisnis pemula.

2. Biaya Pendirian Warnet Lebih murah

Dengan mengunakan system dari warnet gue anda akan membangun warnet dengan biaya lebih murah, karena peralatan warnet langsung dibeli dari distributor utama peralatan computer dimana harga komputernya jauh lebih murah dibanding jika anda beli sendiri.

3. Ilmu dan Pengalaman Teknis yang professional

Dengan mengunakan system warnet Kami anda mendapatkan sebuah warnet dengan kemampuan lebih. Misalnya anda mendapatkan warnet dengan kecepatan koneksi yang lebih tinggi se rta biaya yang lebih murah berkat manajemen bandwidth kami, kemudian ada system billing dan akuntansi kami yang akurat dapat anda lihat dan pantau secara online maupun melalui sms serta membantu anda dalam proses pengambilan keputusan, lalu ada filteriasasi konten tidak baik, game online lengkap, software-software pembantu dan backup system jika ada masalah dengan computer anda. Masih banyak lagi yang anda dapatkan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semua hal ini akan sulit dan memakan waktu banyak jika anda mulai sendiri, yang kalau dihitung maka kerugian yang ditimbulkan bisa tidak sedikit

4. Biaya Manajemen Fee murah

Biaya manajemen fee warnet kami hanya 5 % dari pendapatan kotor usaha per bulan ditambah biaya support. Biaya ini digunakan untuk system dukungan dan bimbingan dari kami untuk anda. Kepemilikan dan keuntungan 100% milik anda.

5. Ilmu Manajemen terdepan di latih oleh Action Coach

Dengan mengunakan system dari warnet kami anda otomatis akan mempunyai usaha dengan system yang sudah dibina oleh trainer bisnis internasional terkemuka dari Australia yaitu Action Coach. Dengan ini ilmu manajemen, marketing, dan system terbaru kami gunakan agar usaha anda berjalan secara maksimal dan menguntungkan.

6. Full Sistem Support

Dengan mengunakan system dari warnet kami anda mendapat support teknis dan manajemen terhadap segala kendala bisnis warnet, dengan demikian anda tidak perlu khawatir jika mengalami masalah karena kami selalu siap membantu.

7. Garansi Uang Kembali

Kami satu-satunya warnet yang berani memberikan garansi uang kembali jika modal anda tidak kembali dalam 1,5 tahun maka modal kami kembalikan. Syarat dan ketentuan ada

ANALISA BISNIS WARNET

Sekarang ini banyak orang yang sedang mencari peluang bisnis dibidang warnet, cuman masalahnya banyak yang kurang mengerti mengenai perhitungan untung ruginya. Dengan hanya bermodalkan tempat yang sudah ada dan beberapa unit komputer, banyak yang langsung terjun ke bisnis ini tanpa menganalisa terlebih dahulu. Setelah berjalan, katakanlah 1-2 tahun biasanya warnet ini akan tutup atau dioperkan ke orang lain yang akan mencoba lagi keberuntungannya.
Berikut ini, kita akan coba menghitung lebih detail tentang bisnis ini.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan/diperhatikan oleh seseorang sebelum memulai usaha warnet. Antara lain :

1.Lokasi/tempat
Apakah tempat kita membuka warnet termasuk tempat yang strategis ? Perkiraan pengunjung yang datang nantinya kira-2 berapa orang per hari ? Ini akan menentukan jumlah pc yang harus disediakan nantinya. Semakin banyak pc yang tersedia tentunya semakin menguntungkan kita, dengan catatan harus ada yang datang bermain. Ada saat-saat tertentu, warnet kita ramai, dan terjadi antrian, tapi kadang-2 dari semua pc yang kita sediakan, hanya terisi 1-2 orang saja.

2.Spec Komputer
Di daerah sekitar kita, apakah sudah ada warnet ? Bagaimana spec komputernya ? Ini akan menentukan spec komputer yang kita gunakan nantinya. Jika daerah kita belum ada warnet, dan katakanlah, daerah kita agak berada di pinggiran, kita bisa berhemat dengan menggunakan spec komputer yang lebih rendah. Bayangkan juga bila kita berada di pusat kota, dengan banyak warnet yang memakai computer dengan spec tinggi, dengan lcd wide screen. Tentunya kita juga harus menyesuaikan warnet kita dengan warnet saingan kita.
Satu hal lagi, spec komputer untuk browsing /chatting saja tidak perlu tinggi-2 amat, lain halnya kalo warnet kita mau dijadikan game center, dengan aneka games tinggi dan online.

3.Harga jual dan jam operasional
Bermain di warnet, biasanya dihitung dengan biaya per jam. Tetapi ada juga yang membuat paket, misalnya paket 1 minggu berapa atau ada juga yang paket bulanan. Hal ini tergantung dari situasi kondisi di lapangan dan juga permintaan dari pelanggan. Di pasaran biasanya harga bermain di warnet sekitar Rp. 2500 s/d rp. 5000,-/jam. Untuk tempat2 yang elit, bisa saja mencapai Rp. 10 ribu per jam atau lebih.
Semakin panjang jam buka warnet kita, tentunya semakin banyak omset yang kita. Tetapi ini juga akan membuat biaya operasional kita menjadi lebih mahal, karena kita harus membayar lebih untuk biaya listrik dan gaji karyawan.

4.Dikelola secara professional atau sistem kekeluargan ?
Ini salah satu poin penting juga, karena selama ini, mungkin kita tidak pernah menghitung biaya sewa gedung, karena dianggap toh punya sendiri. Hal ini sebenarnya harus kita hitung, walaupun tempatnya gratis. Karena kalau tidak kita hitung, kita tidak tahu dengan pasti apakah bisnis kita ini layak diteruskan atau tidak. Kalo misalnya tempat yang akan kita gunakan ini, tidak digunakan untuk warnet, tentunya bisa disewakan ke orang lain, dan ini akan memberikan penghasilan bagi kita. Mungkin saja nanti setelah dihitung-2 dengan analisa yang akan diberikan dibawah, lebih untung menyewakan tempat kita daripada kita sendiri yang buka warnet.
Poin lainnya adalah tenaga kerja, banyak usaha warnet yang dijaga oleh pemiliknya langsung atau mungkin juga adik atau kakak atau family dari ownernya. Dan biasanya mereka tidak mengambil gaji, tetapi hanya mengambil keuntungan dari warnet. Seharusnya walaupun yang jaga adalah saudara kita atau kita sendiri sebagai owner, kita juga harus mengambil gaji seperti kalo kita menggaji orang.

5.Penyusutan computer dan gedung.

Ini adalah poin terpenting dalam bisnis warnet. Rata-rata warnet kecil dibuat tanpa menghitung penyusutan computer. Jadi perhitungan mereka simple saja, dalam 1 bulan dapat omset dari warnet misalnya 10 juta, trus dipotong gaji karyawan, listrik, biaya internet, dan lain sebagainya katakanlah total 6 juta, maka keuntungan mereka perbulan adalah 10 juta – 6 juta = 4 juta. Dalam setahun 12 bulan x 4 juta = 48 juta. Bisnis yang lumayan bukan ?
Seharusnya keuntungan 4 juta itu, harus dipotong dulu dengan yang namanya penyusutan komputer. Biasanya kita hitung, satu unit komputer itu dinolkan (dianggap tidak bernilai lagi) dalam waktu 3 tahun. Jadi kalo harga 1 unit komputer 3 juta, maka biaya penyusutan per bulan adalah : Rp 3 juta / (3 tahun x 12 bulan) = Rp. 83.333. Kalo kita ada 10 unit komputer, maka kalikan saja dengan 10 unit, berarti perbulan kita harus susutkan Rp. 833.333,- Uang ini nantinya kita pisahkan dan kita buat tabungan sendiri.
Untuk sewa gedung juga harus dibuat penyusutannya, supaya di tahun depannya, kita sudah ada dana untuk menyambung sewa gedung tersebut. Tidak lucu kalo misalnya setiap tahun, kita harus keluar modal lagi untuk sewa gedung ataupun upgrade PC.

Ok, sekarang coba kita buat analisanya dalam angka-angka supaya lebih mudah dimengerti.

Investasi awal :

1.Sewa gedung, asumsi rp. 10 juta per tahun
2.PC untuk warnet 10 pc, asumsi Rp. 3.500.000 /unit
3.PC untuk server 1 pc, asumsi Rp. 5.000.000 / unit
4.Biaya pembuatan perabot , asumsi rp. 5.000.000
5.Biaya instalasi jaringan, switch dan kabel, asumsi Rp. 2.000.000,-
6.Investasi lainnya, misalnya AC, line tel, listrik, cat ulang ruangan, asumsi Rp. 5.0000.000,-

Total Rp. 62.000.000,-

2.Biaya operasional :

1.Biaya koneksi internet, asumsi memakai speedy, Rp. 1.750.000 / bln.
2.Biaya gaji pegawai, asumsi 2 orang x Rp. 800.000, total Rp. 1.600.000 / bln
3.Biaya listrik dan tel, asumsi Rp. 1.000.000 / bln
4.Biaya lainnya (cadangan), Rp. 500.000 / bln
5.Biaya penyusutan,

*untuk gedung Rp. 10.000.000 / 12 bln = Rp. 833.333 / bln
*untuk pc dan server Rp. 38.500.000 / 36 bln = Rp. 1.069.000 / bln
*untuk lainnya, kita juga asumsi susut dalam 36 bln,

biaya perabot, ac, instalasi, dll Rp. 12.000.000/36 bln = Rp. 333.333 / bln
Total biaya penyusutan Rp. 2.235.000 / bln
Total biaya operasional + penyusutan = Rp. 7.085.000,-

3.Omset Pendapatan
Dengan jumlah 10 komputer, dan jam buka 12 jam (jam 10 pagi s/d 10 malam), kemudian harga jual Rp. 3000 / jam. Maka maksimal keuntungan yang bisa kita dapat adalah
10 pc x 12 jam x Rp.3000 = Rp. 360.000 / hari.
Tapi ini adalah tidak mungkin, kita harus kalikan dengan tingkat kepadatan pengunjung yang datang. Biasanya kita asumsikan dengan nilai 50%, dalam arti rata-2 yang main setiap saat hanya setengah dari kapasitas warnet kita saja.
Maka keuntungan perhari adalah Rp. 360.000 x 50% = Rp. 180.000.
Untuk satu bulan, kita kali kan dengan 30 hari = Rp. 5.400.000,-

Dengan perhitungan diatas, maka usaha warnet kita tadi adalah rugi Rp. 5.400.000 – Rp. 7.0785.000 = Rp. 1.685.000 / bulan.
Sorry, bukan untuk mengecilkan semangat dalam usaha membuat warnet, tetapi ini adalah sekedar ilustrasi supaya kita lebih cermat dalam hitung-2an sehingga investasi yang kita tanam tidak sia-sia.

Ada beberapa poin yang bisa kita rubah supaya usaha warnet kita bisa untung, misalnya :

*Biaya koneksi internet dicari yang lebih murah, misalnya memakai paket office speedy, Rp. 750.000 / bulan. Ini bisa menghemat biaya internet kita sehingga rp. 1 juta /bulan. Atau bisa juga dengan mencari alternative radio link yang banyak dijual oleh pihak ketiga, diluar ISP resmi.
*Meningkatkan jumlah komputer, memperpanjang jam buka, meningkatkan tingkat kedatangan customer dengan membuat paket-2 yang menarik, mis paket main 5 jam, paket happy hour pada jam-2 sepi.
*Buat usaha tambahan selain warnet,misalnya dengan menyediakan penjualan minuman dan makanan ringan, sehingga ada omset tambahan.
*Menyediakan printer untuk bisa mencetak, biasanya dihitung per lembar.
*Menyediakan jasa download, jasa copy cd/dvd, penjualan accessories komputer, pulsa telepon, dan lainnya sepanjang tidak menggangu usaha warnet dan tidak memakan banyak tempat.

Posted in ekonomi | Dengan kaitkata: , , | Leave a Comment »

SAN FRANCISCO (AP) — Even search engines can get suckered by Internet scams

Posted by jendelaindonesia pada Desember 9, 2009

With a little sleight of hand, con artists can dupe them into giving top billing to fraudulent Web sites that prey on consumers, making unwitting accomplices of companies such as Google, Yahoo and Microsoft.

Online charlatans typically try to lure people into giving away their personal or financial information by posing as legitimate companies in “phishing” e-mails or through messages in forums such as Twitter and Facebook. But a new study by security researcher Jim Stickley shows how search engines also can turn into funnels for shady schemes.

Stickley created a Web site purporting to belong to the Credit Union of Southern California, a real business that agreed to be part of the experiment. He then used his knowledge of how search engines rank Web sites to achieve something that shocked him: His phony site got a No. 2 ranking on Yahoo Inc.’s search engine and landed in the top slot on Microsoft Corp.’s Bing, ahead of even the credit union’s real site.

Google Inc., which handles two-thirds of U.S. search requests, didn’t fall into Stickley’s trap. His fake site never got higher than Google’s sixth page of results, too far back to be seen by most people. The company also places a warning alongside sites that its system suspects might be malicious.

But even Google acknowledges it isn’t foolproof.

Some recession-driven scams have been slipping into Google’s search results, although that number is “very, very few,” said Jason Morrison, a Google search quality engineer.

On one kind of fraudulent site, phony articles claim that participants can make thousands of dollars a month simply for posting links to certain Web sites. Often, the victims are asked to pay money for startup materials that never arrive, or bank account information is requested for payment purposes.

“As soon as we notice anything like it, we’ll adapt, but it’s kind of like a game of Whac-A-Mole,” he said. “We can’t remove every single scam from the Internet. It’s just impossible.”

In fact, Google said Tuesday it is suing a company for promising “work at home” programs through Web sites that look legitimate and pretend to be affiliated with Google.

Stickley’s site wasn’t malicious, but easily could have been. In the year and a half it was up, the 10,568 visitors were automatically redirected to the real credit union, and likely never knew they had passed through a fraudulent site.

“When you’re using search engines, you’ve got to be diligent,” said Stickley, co-founder of TraceSecurity Inc. “You can’t trust that just because it’s No. 2 or No. 1 that it really is. A phone book is actually probably a safer bet than a search engine.”

A Yahoo spokeswoman didn’t respond to requests for comment. Microsoft said in a statement that Stickley’s experiment showed that search results can be cluttered with junk, but the company insists Bing “is equipped to address” the problem. Stickley’s link no longer appears in Bing.

To fool people into thinking they were following the right link, Stickley established a domain (creditunionofsc.org) that sounded plausible. (The credit union’s real site is cusocal.org.) After that, Stickley’s site wasn’t designed with humans in mind; it was programmed to make the search engines believe they were scanning a legitimate site. Stickley said he pulled it off by having link after link inside the site to create the appearance of “depth,” even though those links only led to the same picture of the credit union’s front page.

The experiment convinced Credit Union of Southern California that it should protect itself by being more aggressive about buying domain names similar to its own. Domains generally cost a few hundred dollars to a few thousand dollars each — a pittance compared with a financial institution’s potential liability or loss of goodwill if its customers are ripped off by a fake site.

“The test was hugely successful,” said Ray Rounds, the credit union’s senior vice president of information services.

Stickley’s manipulation illuminates the dark side of so-called search engine optimization. It’s a legitimate tactic used by sites striving to boost their rankings — by designing them so search engines can capture information on them better.

But criminals can turn the tables to pump up fraudulent sites.

“You can do this on a very, very broad scale and have a ton of success,” Stickley said. “This shows there’s a major, major risk out there.”

Robert Hansen, a Web security expert who wasn’t involved in Stickley’s research, said ranking high in search engine results gets easier as the topic gets more obscure. An extremely well-trafficked site such as Bank of America’s would always outrank a phony one, he notes.

Still, Hansen said, criminals have been able to game Google’s system well enough to carve out profitable niches. He says one trick is to hack into trusted sites, such as those run by universities, and stuff them with links to scam sites, which makes search engines interpret the fraudulent sites as legitimate.

“I don’t think we’re anywhere near winning” the fight against such frauds, said Hansen, chief executive of the SecTheory consulting firm.

Roger Thompson, chief research officer for AVG Technologies, who also wasn’t involved in the research, said search results can be trusted, for the most part.

“But the rule is, if you’re looking for something topical or newsworthy, you should be very cautious about clicking the link,” he said. That’s because criminals load their scam sites with hot topics in the news, to trap victims before the search engines have a chance to pull their sites out of the rankings.

“The bad guys don’t have to get every search,” he said. “They just have to get a percentage.”

Consumers can protect themselves from scam sites by looking up the domain at http://www.whois.com, which details when a site was registered and by whom. That can be helpful if the Web address of a phony site is similar to the real one.

http://finance.yahoo.com/news/How-fake-sites-trick-search-apf-1815482283.html?x=0&sec=topStories&pos=8&asset=&ccode=

AP Technology Writer Michael Liedtke contributed to this report from San Francisco.

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Hati-hati Meminjam KTA Standard Chartered

Posted by jendelaindonesia pada November 29, 2009

Suatu saat barangkali anda membutuhkan dana tunai melalui KTA (Kredit Tanpa Anggunan), tetapi anda harus hati-hati dengan aturan-aturan yang menjebak dan sangat memberatkan anda. Banyak sekali tawaran ini muncul, satu diantara yang paling aggresif menawarkan adalah dari Standard Chartered. Salesmennya dengan sangat agresif menawarkannya kepada anda. Diskon tanpa bunga 3 bulan pertamalah; bunga murah; Dan lain-lain bentuk iming-iming sehingga anda akan tertarik menerimanya.

Tetapi suatu hal, yang kadangkala tidak diinformasikan kepada anda adalah biaya administrasi, dan biaya lainya yang dipotong dari pinjaman anda. Misalnya jika anda meminjam sebesar Rp.30 Juta. Biasanya anda akan menerima hanya sekitar RP. 28 Juta saja. Potongan tersebut sekitar 5% seperti yang saya alami. Anda biasanya baru menyadari setelah menerima uang pinjaman. Walaupun hal tersebut sebenarnya sudah tertulis didalam surat-perjanjian-pinjaman yang sudah anda tandatangani. Memang kita biasanya lalai membacanya, hal seperti ini sepertinya dimanfaatkan oleh Bank asing yang agresif ini.

Suatu hal lagi adalah tentang biaya penalti karena keterlambatan yang jumlahnya sebesar Rp. 100 ribu, biaya ini jauh lebih besar dibanding kartu kredit sekalipun.

Beda lainnya dengan kartu kredit adalah jika anda tidak bisa melunasi tagihan bulanan, anda bisa membayar sebagian saja dari tagihan bulanan tersebut.

Hal ini berbeda dengan yang dilakukan pada KTA standard Chartered. Jika anda punya kewajiban membayar bulanan misalnya Rp. 1 Jt, tetapi anda membayarnya untuk bulan yang bersangkutan hanya sebesar Rp 950 rb, anda tetap dikenakan biaya penalti sebesar Rp. 100.000. Dan jika pada bulan berikutnya anda membanyar secara full Rp 1 jt, anda akan dikenakan kembali penalti sebesar Rp. 100 rb lagi.

Peminjam biasanya tidak menyadari hal ini, karena setelah meminjam anda tidak menerima informasi apapun dari Standard Chartered. Tidak seperti kartu kredit, anda akan mengetahui jumlah tagihan setiap bulan. Jika anda secara tidak sadar membayar dalam jumlah kurang setiap bulan, atau karena kondisi keuangan anda tidak bisa membayar secara full. dapat diramalkan anda akan dikenakan denda/penalti minimal Rp 200.000. Dapat dibayangkan jika anda secara finansial dalam kesulitan, anda akan menerima telpon barangkali dalam bentuk teror mental, dan barangkali juga didatangi oleh Debt Collector, dengan sikap kasar, dan lain-lain perlakuan yang tidak menyenangi.

Hati-hatilah, jebakan penalti ini barangkali adalah suatu cara untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya. Seperti yang saya alami, pertama kali petugas yang mengaku bernama Adi, dengan sikap arogan dan kasar mengatakan saya harus membayar denda keterlambatan bulan lalu sebesar Rp. 100.000, karena merasa tidak merasa membayar telat, saya katakan bahwa saya tidak membayar telat. Dengan nada tinggi, dia mengatakan “itu menurut versi bapak, menurut versi kami Bapak telat”, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Hari ini saya mendapat telpon lagi bahwa saya harus membayar keterlambatan bulan lalu dan bulan ini dengan total Rp 200.000. Setelah dijelaskan oleh petugas yang mengaku bernama Feny, baru saya mendapat penjelasan bahwa pembayaran pada bulan lalu kurang dari yang seharusnya.

Saya menyarankan untuk tidak melakukan pinjaman KTA dengan sistem penalti ini, jika anda melaksanakannya dapat diramalkan anda akan menghadapi teror mental yang akan menghabiskan energi. Masih banyak pinjaman sejenis dengan bunga jauh lebih murah, tanpa dikenakan biaya penalti. Semoga bermanfaat.

Ini beberapa keluhan terhadap KTA Standard Charterd:

http://suarapembaca.detik.com/read/2008/04/14/145233/923141/283/janji-manis-kta-standard-chartered

http://www.kompas.com/suratpembaca/read/721
Standard Chartered Bank
KTA Standard Chartered Bank – Hanya Manis di Bibir Saja
Kamis, 19 Juni 2008 | 12:18 WIB

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/11/19/113517/1244697/283/layanan-kredit-tanpa-agunan-standard-chartered-kurang-tepat

http://www.kompas.com/suratpembaca/readtanggapan/8901

http://pobox.wordpress.com/2008/03/04/standard-chartered-aplikasi-kredit-tanpa-agunan/

http://www.aryacell.com/200902/terlilit-hutang-kta-standard-chartered.php

http://produkjelek.wordpress.com/2008/08/12/hindari-kredit-maupun-kartu-kredit-dari-standard-chartered-bank-para-debt-collectornya-sering-mengacam-keselamatan-jiwa-orang-lain/

http://kompas.co.id/suratpembaca/read/11175
Standard Chartered Bank
Kecewa dengan KTA dan Kartu Kredit Standard Chartered
Kamis, 12 November 2009 | 13:35 WIB

http://suarapembaca.detik.com/read/2008/03/31/130644/915884/283/cara-yang-sangat-tidak-menyenangkan-standard-chartered

Posted in ekonomi | Dengan kaitkata: , , , , , , | 5 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.