Jendela Indonesia

Motivate young generation to be success in internet era

Alasan mengapa Waralaba Warnet Gue lebih baik dibandingkan dengan membuat warnet sendiri

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Desember 14, 2009

Alasan mengapa Waralaba Warnet lebih baik dibandingkan dengan membuat warnet sendiri

Alasan mengapa kami bisa membantu Anda

1. Apakah anda ingin mempunyai penghasilan yang terus-menerus walaupun anda sudah tidak bekerja ?
2. Apakah anda ingin memiliki usaha yang 100% kepemilikan dan keuntungan milik anda ?
3. Apakah anda ingin mempunyai usaha yang dapat menghasilkan untung besar dan didirikan dengan biaya yang murah ?
4. Apakah anda ingin mempunyai usaha dengan sistem teruji dan support 24/7 ?
5. Apakah anda ingin mempunyai usaha yang memberi dampak kemajuan ilmu pengetahuan bangsa sekaligus memberi hiburan ?

Jika pertanyaan diatas anda jawab Iya, maka insya allah kami siap untuk membantu saudara untuk mewujudkan impian saudara tersebut melalui usaha kami di bidang teknologi informasi.

1. Sistem Warnet teruji

Dengan mengunakan system dari warnet anda akan memiliki sebuah system usaha yang sudah teruji selama lebih 5 tahun dengan cabang di 7 kota besar. Anda tinggal menjalankan panduan system yang telah kami buat sehingga akan memudahkan anda menjalankan warnet dan menghindari resiko kegagalan yang biasa dialami oleh pebisnis pemula.

2. Biaya Pendirian Warnet Lebih murah

Dengan mengunakan system dari warnet gue anda akan membangun warnet dengan biaya lebih murah, karena peralatan warnet langsung dibeli dari distributor utama peralatan computer dimana harga komputernya jauh lebih murah dibanding jika anda beli sendiri.

3. Ilmu dan Pengalaman Teknis yang professional

Dengan mengunakan system warnet Kami anda mendapatkan sebuah warnet dengan kemampuan lebih. Misalnya anda mendapatkan warnet dengan kecepatan koneksi yang lebih tinggi se rta biaya yang lebih murah berkat manajemen bandwidth kami, kemudian ada system billing dan akuntansi kami yang akurat dapat anda lihat dan pantau secara online maupun melalui sms serta membantu anda dalam proses pengambilan keputusan, lalu ada filteriasasi konten tidak baik, game online lengkap, software-software pembantu dan backup system jika ada masalah dengan computer anda. Masih banyak lagi yang anda dapatkan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semua hal ini akan sulit dan memakan waktu banyak jika anda mulai sendiri, yang kalau dihitung maka kerugian yang ditimbulkan bisa tidak sedikit

4. Biaya Manajemen Fee murah

Biaya manajemen fee warnet kami hanya 5 % dari pendapatan kotor usaha per bulan ditambah biaya support. Biaya ini digunakan untuk system dukungan dan bimbingan dari kami untuk anda. Kepemilikan dan keuntungan 100% milik anda.

5. Ilmu Manajemen terdepan di latih oleh Action Coach

Dengan mengunakan system dari warnet kami anda otomatis akan mempunyai usaha dengan system yang sudah dibina oleh trainer bisnis internasional terkemuka dari Australia yaitu Action Coach. Dengan ini ilmu manajemen, marketing, dan system terbaru kami gunakan agar usaha anda berjalan secara maksimal dan menguntungkan.

6. Full Sistem Support

Dengan mengunakan system dari warnet kami anda mendapat support teknis dan manajemen terhadap segala kendala bisnis warnet, dengan demikian anda tidak perlu khawatir jika mengalami masalah karena kami selalu siap membantu.

7. Garansi Uang Kembali

Kami satu-satunya warnet yang berani memberikan garansi uang kembali jika modal anda tidak kembali dalam 1,5 tahun maka modal kami kembalikan. Syarat dan ketentuan ada

ANALISA BISNIS WARNET

Sekarang ini banyak orang yang sedang mencari peluang bisnis dibidang warnet, cuman masalahnya banyak yang kurang mengerti mengenai perhitungan untung ruginya. Dengan hanya bermodalkan tempat yang sudah ada dan beberapa unit komputer, banyak yang langsung terjun ke bisnis ini tanpa menganalisa terlebih dahulu. Setelah berjalan, katakanlah 1-2 tahun biasanya warnet ini akan tutup atau dioperkan ke orang lain yang akan mencoba lagi keberuntungannya.
Berikut ini, kita akan coba menghitung lebih detail tentang bisnis ini.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan/diperhatikan oleh seseorang sebelum memulai usaha warnet. Antara lain :

1.Lokasi/tempat
Apakah tempat kita membuka warnet termasuk tempat yang strategis ? Perkiraan pengunjung yang datang nantinya kira-2 berapa orang per hari ? Ini akan menentukan jumlah pc yang harus disediakan nantinya. Semakin banyak pc yang tersedia tentunya semakin menguntungkan kita, dengan catatan harus ada yang datang bermain. Ada saat-saat tertentu, warnet kita ramai, dan terjadi antrian, tapi kadang-2 dari semua pc yang kita sediakan, hanya terisi 1-2 orang saja.

2.Spec Komputer
Di daerah sekitar kita, apakah sudah ada warnet ? Bagaimana spec komputernya ? Ini akan menentukan spec komputer yang kita gunakan nantinya. Jika daerah kita belum ada warnet, dan katakanlah, daerah kita agak berada di pinggiran, kita bisa berhemat dengan menggunakan spec komputer yang lebih rendah. Bayangkan juga bila kita berada di pusat kota, dengan banyak warnet yang memakai computer dengan spec tinggi, dengan lcd wide screen. Tentunya kita juga harus menyesuaikan warnet kita dengan warnet saingan kita.
Satu hal lagi, spec komputer untuk browsing /chatting saja tidak perlu tinggi-2 amat, lain halnya kalo warnet kita mau dijadikan game center, dengan aneka games tinggi dan online.

3.Harga jual dan jam operasional
Bermain di warnet, biasanya dihitung dengan biaya per jam. Tetapi ada juga yang membuat paket, misalnya paket 1 minggu berapa atau ada juga yang paket bulanan. Hal ini tergantung dari situasi kondisi di lapangan dan juga permintaan dari pelanggan. Di pasaran biasanya harga bermain di warnet sekitar Rp. 2500 s/d rp. 5000,-/jam. Untuk tempat2 yang elit, bisa saja mencapai Rp. 10 ribu per jam atau lebih.
Semakin panjang jam buka warnet kita, tentunya semakin banyak omset yang kita. Tetapi ini juga akan membuat biaya operasional kita menjadi lebih mahal, karena kita harus membayar lebih untuk biaya listrik dan gaji karyawan.

4.Dikelola secara professional atau sistem kekeluargan ?
Ini salah satu poin penting juga, karena selama ini, mungkin kita tidak pernah menghitung biaya sewa gedung, karena dianggap toh punya sendiri. Hal ini sebenarnya harus kita hitung, walaupun tempatnya gratis. Karena kalau tidak kita hitung, kita tidak tahu dengan pasti apakah bisnis kita ini layak diteruskan atau tidak. Kalo misalnya tempat yang akan kita gunakan ini, tidak digunakan untuk warnet, tentunya bisa disewakan ke orang lain, dan ini akan memberikan penghasilan bagi kita. Mungkin saja nanti setelah dihitung-2 dengan analisa yang akan diberikan dibawah, lebih untung menyewakan tempat kita daripada kita sendiri yang buka warnet.
Poin lainnya adalah tenaga kerja, banyak usaha warnet yang dijaga oleh pemiliknya langsung atau mungkin juga adik atau kakak atau family dari ownernya. Dan biasanya mereka tidak mengambil gaji, tetapi hanya mengambil keuntungan dari warnet. Seharusnya walaupun yang jaga adalah saudara kita atau kita sendiri sebagai owner, kita juga harus mengambil gaji seperti kalo kita menggaji orang.

5.Penyusutan computer dan gedung.

Ini adalah poin terpenting dalam bisnis warnet. Rata-rata warnet kecil dibuat tanpa menghitung penyusutan computer. Jadi perhitungan mereka simple saja, dalam 1 bulan dapat omset dari warnet misalnya 10 juta, trus dipotong gaji karyawan, listrik, biaya internet, dan lain sebagainya katakanlah total 6 juta, maka keuntungan mereka perbulan adalah 10 juta – 6 juta = 4 juta. Dalam setahun 12 bulan x 4 juta = 48 juta. Bisnis yang lumayan bukan ?
Seharusnya keuntungan 4 juta itu, harus dipotong dulu dengan yang namanya penyusutan komputer. Biasanya kita hitung, satu unit komputer itu dinolkan (dianggap tidak bernilai lagi) dalam waktu 3 tahun. Jadi kalo harga 1 unit komputer 3 juta, maka biaya penyusutan per bulan adalah : Rp 3 juta / (3 tahun x 12 bulan) = Rp. 83.333. Kalo kita ada 10 unit komputer, maka kalikan saja dengan 10 unit, berarti perbulan kita harus susutkan Rp. 833.333,- Uang ini nantinya kita pisahkan dan kita buat tabungan sendiri.
Untuk sewa gedung juga harus dibuat penyusutannya, supaya di tahun depannya, kita sudah ada dana untuk menyambung sewa gedung tersebut. Tidak lucu kalo misalnya setiap tahun, kita harus keluar modal lagi untuk sewa gedung ataupun upgrade PC.

Ok, sekarang coba kita buat analisanya dalam angka-angka supaya lebih mudah dimengerti.

Investasi awal :

1.Sewa gedung, asumsi rp. 10 juta per tahun
2.PC untuk warnet 10 pc, asumsi Rp. 3.500.000 /unit
3.PC untuk server 1 pc, asumsi Rp. 5.000.000 / unit
4.Biaya pembuatan perabot , asumsi rp. 5.000.000
5.Biaya instalasi jaringan, switch dan kabel, asumsi Rp. 2.000.000,-
6.Investasi lainnya, misalnya AC, line tel, listrik, cat ulang ruangan, asumsi Rp. 5.0000.000,-

Total Rp. 62.000.000,-

2.Biaya operasional :

1.Biaya koneksi internet, asumsi memakai speedy, Rp. 1.750.000 / bln.
2.Biaya gaji pegawai, asumsi 2 orang x Rp. 800.000, total Rp. 1.600.000 / bln
3.Biaya listrik dan tel, asumsi Rp. 1.000.000 / bln
4.Biaya lainnya (cadangan), Rp. 500.000 / bln
5.Biaya penyusutan,

*untuk gedung Rp. 10.000.000 / 12 bln = Rp. 833.333 / bln
*untuk pc dan server Rp. 38.500.000 / 36 bln = Rp. 1.069.000 / bln
*untuk lainnya, kita juga asumsi susut dalam 36 bln,

biaya perabot, ac, instalasi, dll Rp. 12.000.000/36 bln = Rp. 333.333 / bln
Total biaya penyusutan Rp. 2.235.000 / bln
Total biaya operasional + penyusutan = Rp. 7.085.000,-

3.Omset Pendapatan
Dengan jumlah 10 komputer, dan jam buka 12 jam (jam 10 pagi s/d 10 malam), kemudian harga jual Rp. 3000 / jam. Maka maksimal keuntungan yang bisa kita dapat adalah
10 pc x 12 jam x Rp.3000 = Rp. 360.000 / hari.
Tapi ini adalah tidak mungkin, kita harus kalikan dengan tingkat kepadatan pengunjung yang datang. Biasanya kita asumsikan dengan nilai 50%, dalam arti rata-2 yang main setiap saat hanya setengah dari kapasitas warnet kita saja.
Maka keuntungan perhari adalah Rp. 360.000 x 50% = Rp. 180.000.
Untuk satu bulan, kita kali kan dengan 30 hari = Rp. 5.400.000,-

Dengan perhitungan diatas, maka usaha warnet kita tadi adalah rugi Rp. 5.400.000 – Rp. 7.0785.000 = Rp. 1.685.000 / bulan.
Sorry, bukan untuk mengecilkan semangat dalam usaha membuat warnet, tetapi ini adalah sekedar ilustrasi supaya kita lebih cermat dalam hitung-2an sehingga investasi yang kita tanam tidak sia-sia.

Ada beberapa poin yang bisa kita rubah supaya usaha warnet kita bisa untung, misalnya :

*Biaya koneksi internet dicari yang lebih murah, misalnya memakai paket office speedy, Rp. 750.000 / bulan. Ini bisa menghemat biaya internet kita sehingga rp. 1 juta /bulan. Atau bisa juga dengan mencari alternative radio link yang banyak dijual oleh pihak ketiga, diluar ISP resmi.
*Meningkatkan jumlah komputer, memperpanjang jam buka, meningkatkan tingkat kedatangan customer dengan membuat paket-2 yang menarik, mis paket main 5 jam, paket happy hour pada jam-2 sepi.
*Buat usaha tambahan selain warnet,misalnya dengan menyediakan penjualan minuman dan makanan ringan, sehingga ada omset tambahan.
*Menyediakan printer untuk bisa mencetak, biasanya dihitung per lembar.
*Menyediakan jasa download, jasa copy cd/dvd, penjualan accessories komputer, pulsa telepon, dan lainnya sepanjang tidak menggangu usaha warnet dan tidak memakan banyak tempat.

Ditulis dalam ekonomi | Bertanda: , , | Leave a Comment »

SAN FRANCISCO (AP) — Even search engines can get suckered by Internet scams

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Desember 9, 2009

With a little sleight of hand, con artists can dupe them into giving top billing to fraudulent Web sites that prey on consumers, making unwitting accomplices of companies such as Google, Yahoo and Microsoft.

Online charlatans typically try to lure people into giving away their personal or financial information by posing as legitimate companies in “phishing” e-mails or through messages in forums such as Twitter and Facebook. But a new study by security researcher Jim Stickley shows how search engines also can turn into funnels for shady schemes.

Stickley created a Web site purporting to belong to the Credit Union of Southern California, a real business that agreed to be part of the experiment. He then used his knowledge of how search engines rank Web sites to achieve something that shocked him: His phony site got a No. 2 ranking on Yahoo Inc.’s search engine and landed in the top slot on Microsoft Corp.’s Bing, ahead of even the credit union’s real site.

Google Inc., which handles two-thirds of U.S. search requests, didn’t fall into Stickley’s trap. His fake site never got higher than Google’s sixth page of results, too far back to be seen by most people. The company also places a warning alongside sites that its system suspects might be malicious.

But even Google acknowledges it isn’t foolproof.

Some recession-driven scams have been slipping into Google’s search results, although that number is “very, very few,” said Jason Morrison, a Google search quality engineer.

On one kind of fraudulent site, phony articles claim that participants can make thousands of dollars a month simply for posting links to certain Web sites. Often, the victims are asked to pay money for startup materials that never arrive, or bank account information is requested for payment purposes.

“As soon as we notice anything like it, we’ll adapt, but it’s kind of like a game of Whac-A-Mole,” he said. “We can’t remove every single scam from the Internet. It’s just impossible.”

In fact, Google said Tuesday it is suing a company for promising “work at home” programs through Web sites that look legitimate and pretend to be affiliated with Google.

Stickley’s site wasn’t malicious, but easily could have been. In the year and a half it was up, the 10,568 visitors were automatically redirected to the real credit union, and likely never knew they had passed through a fraudulent site.

“When you’re using search engines, you’ve got to be diligent,” said Stickley, co-founder of TraceSecurity Inc. “You can’t trust that just because it’s No. 2 or No. 1 that it really is. A phone book is actually probably a safer bet than a search engine.”

A Yahoo spokeswoman didn’t respond to requests for comment. Microsoft said in a statement that Stickley’s experiment showed that search results can be cluttered with junk, but the company insists Bing “is equipped to address” the problem. Stickley’s link no longer appears in Bing.

To fool people into thinking they were following the right link, Stickley established a domain (creditunionofsc.org) that sounded plausible. (The credit union’s real site is cusocal.org.) After that, Stickley’s site wasn’t designed with humans in mind; it was programmed to make the search engines believe they were scanning a legitimate site. Stickley said he pulled it off by having link after link inside the site to create the appearance of “depth,” even though those links only led to the same picture of the credit union’s front page.

The experiment convinced Credit Union of Southern California that it should protect itself by being more aggressive about buying domain names similar to its own. Domains generally cost a few hundred dollars to a few thousand dollars each — a pittance compared with a financial institution’s potential liability or loss of goodwill if its customers are ripped off by a fake site.

“The test was hugely successful,” said Ray Rounds, the credit union’s senior vice president of information services.

Stickley’s manipulation illuminates the dark side of so-called search engine optimization. It’s a legitimate tactic used by sites striving to boost their rankings — by designing them so search engines can capture information on them better.

But criminals can turn the tables to pump up fraudulent sites.

“You can do this on a very, very broad scale and have a ton of success,” Stickley said. “This shows there’s a major, major risk out there.”

Robert Hansen, a Web security expert who wasn’t involved in Stickley’s research, said ranking high in search engine results gets easier as the topic gets more obscure. An extremely well-trafficked site such as Bank of America’s would always outrank a phony one, he notes.

Still, Hansen said, criminals have been able to game Google’s system well enough to carve out profitable niches. He says one trick is to hack into trusted sites, such as those run by universities, and stuff them with links to scam sites, which makes search engines interpret the fraudulent sites as legitimate.

“I don’t think we’re anywhere near winning” the fight against such frauds, said Hansen, chief executive of the SecTheory consulting firm.

Roger Thompson, chief research officer for AVG Technologies, who also wasn’t involved in the research, said search results can be trusted, for the most part.

“But the rule is, if you’re looking for something topical or newsworthy, you should be very cautious about clicking the link,” he said. That’s because criminals load their scam sites with hot topics in the news, to trap victims before the search engines have a chance to pull their sites out of the rankings.

“The bad guys don’t have to get every search,” he said. “They just have to get a percentage.”

Consumers can protect themselves from scam sites by looking up the domain at http://www.whois.com, which details when a site was registered and by whom. That can be helpful if the Web address of a phony site is similar to the real one.

http://finance.yahoo.com/news/How-fake-sites-trick-search-apf-1815482283.html?x=0&sec=topStories&pos=8&asset=&ccode=

AP Technology Writer Michael Liedtke contributed to this report from San Francisco.

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , | Leave a Comment »

Hati-hati Meminjam KTA Standard Chartered

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada November 29, 2009

Suatu saat barangkali anda membutuhkan dana tunai melalui KTA (Kredit Tanpa Anggunan), tetapi anda harus hati-hati dengan aturan-aturan yang menjebak dan sangat memberatkan anda. Banyak sekali tawaran ini muncul, satu diantara yang paling aggresif menawarkan adalah dari Standard Chartered. Salesmennya dengan sangat agresif menawarkannya kepada anda. Diskon tanpa bunga 3 bulan pertamalah; bunga murah; Dan lain-lain bentuk iming-iming sehingga anda akan tertarik menerimanya.

Tetapi suatu hal, yang kadangkala tidak diinformasikan kepada anda adalah biaya administrasi, dan biaya lainya yang dipotong dari pinjaman anda. Misalnya jika anda meminjam sebesar Rp.30 Juta. Biasanya anda akan menerima hanya sekitar RP. 28 Juta saja. Potongan tersebut sekitar 5% seperti yang saya alami. Anda biasanya baru menyadari setelah menerima uang pinjaman. Walaupun hal tersebut sebenarnya sudah tertulis didalam surat-perjanjian-pinjaman yang sudah anda tandatangani. Memang kita biasanya lalai membacanya, hal seperti ini sepertinya dimanfaatkan oleh Bank asing yang agresif ini.

Suatu hal lagi adalah tentang biaya penalti karena keterlambatan yang jumlahnya sebesar Rp. 100 ribu, biaya ini jauh lebih besar dibanding kartu kredit sekalipun.

Beda lainnya dengan kartu kredit adalah jika anda tidak bisa melunasi tagihan bulanan, anda bisa membayar sebagian saja dari tagihan bulanan tersebut.

Hal ini berbeda dengan yang dilakukan pada KTA standard Chartered. Jika anda punya kewajiban membayar bulanan misalnya Rp. 1 Jt, tetapi anda membayarnya untuk bulan yang bersangkutan hanya sebesar Rp 950 rb, anda tetap dikenakan biaya penalti sebesar Rp. 100.000. Dan jika pada bulan berikutnya anda membanyar secara full Rp 1 jt, anda akan dikenakan kembali penalti sebesar Rp. 100 rb lagi.

Peminjam biasanya tidak menyadari hal ini, karena setelah meminjam anda tidak menerima informasi apapun dari Standard Chartered. Tidak seperti kartu kredit, anda akan mengetahui jumlah tagihan setiap bulan. Jika anda secara tidak sadar membayar dalam jumlah kurang setiap bulan, atau karena kondisi keuangan anda tidak bisa membayar secara full. dapat diramalkan anda akan dikenakan denda/penalti minimal Rp 200.000. Dapat dibayangkan jika anda secara finansial dalam kesulitan, anda akan menerima telpon barangkali dalam bentuk teror mental, dan barangkali juga didatangi oleh Debt Collector, dengan sikap kasar, dan lain-lain perlakuan yang tidak menyenangi.

Hati-hatilah, jebakan penalti ini barangkali adalah suatu cara untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya. Seperti yang saya alami, pertama kali petugas yang mengaku bernama Adi, dengan sikap arogan dan kasar mengatakan saya harus membayar denda keterlambatan bulan lalu sebesar Rp. 100.000, karena merasa tidak merasa membayar telat, saya katakan bahwa saya tidak membayar telat. Dengan nada tinggi, dia mengatakan “itu menurut versi bapak, menurut versi kami Bapak telat”, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Hari ini saya mendapat telpon lagi bahwa saya harus membayar keterlambatan bulan lalu dan bulan ini dengan total Rp 200.000. Setelah dijelaskan oleh petugas yang mengaku bernama Feny, baru saya mendapat penjelasan bahwa pembayaran pada bulan lalu kurang dari yang seharusnya.

Saya menyarankan untuk tidak melakukan pinjaman KTA dengan sistem penalti ini, jika anda melaksanakannya dapat diramalkan anda akan menghadapi teror mental yang akan menghabiskan energi. Masih banyak pinjaman sejenis dengan bunga jauh lebih murah, tanpa dikenakan biaya penalti. Semoga bermanfaat.

Ini beberapa keluhan terhadap KTA Standard Charterd:

http://suarapembaca.detik.com/read/2008/04/14/145233/923141/283/janji-manis-kta-standard-chartered

http://www.kompas.com/suratpembaca/read/721
Standard Chartered Bank
KTA Standard Chartered Bank – Hanya Manis di Bibir Saja
Kamis, 19 Juni 2008 | 12:18 WIB

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/11/19/113517/1244697/283/layanan-kredit-tanpa-agunan-standard-chartered-kurang-tepat

http://www.kompas.com/suratpembaca/readtanggapan/8901

http://pobox.wordpress.com/2008/03/04/standard-chartered-aplikasi-kredit-tanpa-agunan/

http://www.aryacell.com/200902/terlilit-hutang-kta-standard-chartered.php

http://produkjelek.wordpress.com/2008/08/12/hindari-kredit-maupun-kartu-kredit-dari-standard-chartered-bank-para-debt-collectornya-sering-mengacam-keselamatan-jiwa-orang-lain/

http://kompas.co.id/suratpembaca/read/11175
Standard Chartered Bank
Kecewa dengan KTA dan Kartu Kredit Standard Chartered
Kamis, 12 November 2009 | 13:35 WIB

Ditulis dalam ekonomi | Bertanda: , , , , , , | Leave a Comment »

Tanggapan terhadap artikel Ninok Leksono, Jejak Naga Silikon dan Masa Depan Ekstrem

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada November 5, 2009

selengkapnya lihat: Tanggapan terhadap artikel Ninok Leksono, Jejak Naga Silikon dan Masa Depan Ekstrem

Oleh: Syafedi Syafei Ph.D

Artikel yang sangat menarik dari Ninok Leksono. Seharusnya pemerintah memberikan motivasi dan stimulus ke bidang teknologi Informasi ini. Tetapi kenyataannya dari perkembangan sejarah Indonesia banyak hal yang dilakukan adalah bersifat unmotivated dengan kebijakan yang tidak bijak dan merugikan. Seharusnya stimulus yang diberikan bukan bersifat BLT seperti projek Block grand Dikti kemaren ini.

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , | Leave a Comment »

Belajar dari Darpa, Rising Above the Gathering Storm: Energizing and Employing America for a Brighter Economic Future

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada November 5, 2009

Selengkapnya baca link ini:
Belajar dari Darpa, Rising Above the Gathering Storm: Energizing and Employing America for a Brighter Economic Future

Oleh: Syafedi Syafei Ph.D

Belajar dari DARPA

Apakah itu DARPA ? Sekilas kedengarannya seperti salah satu alat musik, tetapi ini adalah hal lain, bukan alat musik Harpa. DARPA adalah suatu lembaga penelitian yang ada di Amerika Serikat. Kalau anda pernah belajar tentang sejarah internet, tentu anda sudah pernah mendengarnya. Ini adalah lembaga yang melakukan penelitian dan menemukan teknologi Internet. DARPA adalah singkatan dari Defense Advance Research Project Agency. Temuan yang dilakukan oleh DARPA yang siknikan tidak hanya Internet, tetapi juga microelektronik kecepatan tinggi, stealth dan teknologi satelit, pesawat tak berawak, dan material baru.

DARPA didirikan tahun 1958 dengan anggaran belanja sebesar $ 500 jt, setelah Sputnik diluncurkan oleh Sovyet. Pada tahun 2005 anggaran belanjanya sebesar $ 3.1 M. Tetapi ditinjau dari jumlah karyawannya, ini adalah organisasi kecil, dengan bentuk non-hirarkhi. Jumlah karyawannya adalah 220 orang termasuk staff teknik sebanyak 120 orang. Tetapi lembaga ini bisa mengangkat karyawan baru dari kalangan akademik dan industri dengan cepat dan gaji yang luar biasa tingginya melebihi gaji lembaga pemerintah lainnya.

Menurut Lawrence Dubois, DARPA menanyakan pertanyaan berikut kepada Principal Investigator, project leader, program manager :

* What are you trying to accomplish?
* How is it done today and what are the limitations? What is truly new in your approach that will remove current limitations and improve performance? By how much? A factor of 10? 100? More? If successful, what difference will it make and to whom?
* What are the midterm exams, final exams, or full-scale applications required to prove your hypothesis? When will they be done?
* What is DARPA’s exit strategy? Who will take the technologies you develop and turn them into new capabilities or real products?
* How much will it cost?

Ditulis dalam ekonomi | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Benarkah Indonesia bisa terhindar KrisMon 1997/98 bila menerapkan Currency Board System?

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Oktober 5, 2009

Benarkah Indonesia bisa terhindar KrisMon 1997/98 bila menerapkan Currency Board System?

Sebuah Buku dengan judul “THE FALL OF SOEHARTO” yang diterbitkan oleh Crawford House Publishing, Australia tahun 1998, yang berisikan kumpulan tulisan-tulisan para pengamat Indonesia asal Australia, seperti: Hall Hill, Jamie Mackie, Richard Robinson, Harold Crouch, dan Geoff Forrester, dimana mereka mencoba menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kejatuhan Presiden Soeharto.

Faktor utama yang disebutkan di buku itu adalah semakin memburuknya situasi ekonomi saat itu. Hall Hill menilai krisis ekonomi sejak Juli 1997 menyebabkan jatuhnya Soeharto. Krisis ekonomi yang disusul krisis politik mengakibatkan pelarian modal ke luar Indonesia secara masif, hingga menyebabkan anjloknya nilai rupiah sampai mencapai Rp17.000,- per dolar.

Rupiah yang lemah membuat pebisnis “collaps” karena tidak dapat lagi mengelola utang luar negerinya. Situasi diperburuk dengan besarnya utang luar negeri dan buruknya sistem manajemen keuangan dalam negeri. Harga barang kebutuhan pokok melonjak, sehingga menimbulkan keresahan sosial yang luar biasa.

Berdasarkan fakta-fakta diatas, dapat disimpulkan bahwa kejatuhan Soeharto adalah karena Krisis Ekonomi yang melanda Indonesia saat itu.
Penandatanganan LoI IMF

Penandatanganan LoI IMF

Namun sepuluh tahun sejak Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent (LoI) IMF pada tanggal 15 Januari 1998 di rumah beliau di Jl. Cendana Jakarta, disaksikan oleh Managing Director IMF Michel Camdessus sambil berkacak pinggang, sekarang muncul sebuah pemikiran baru penyebab jatuhnya Soeharto. Memang beliau itu mundur karena Krisis Moneter/Ekonomi yang melanda Indonesia, namun ini ada cerita penyebabnya.

Setelah penandatanganan LoI itu. media-media nasional dan internasional menyiarkan berita dengan judul: “Soeharto tunduk pada IMF, salah satu pilar Kapitalisme Global“, disertai foto kepongahan Bos IMF yang berdiri disamping Soeharto. Pak Harto berusaha mencari alternatif lain untuk menyelamatkan Indonesia dari KrisMon, dan memanggil Prof. Steve Hanke, pakar Currency Board System (CBS) dari AS. Prof. Hanke akan mematok Kurs Dollar terhadap Rupiah sebesar Rp 5.500/US Dollar.

Sejarah mencatat keberhasilan Mahatir Muhammad menyelamatkan Malaysia dari KrisMon yang sama. Begitu pula Argentina dan Chili yang merupakan pasien IMF, berhasil lolos dari Krisis Finansial dengan menerapkan CBS, tetapi tidak dilarang oleh IMF.

Pak Harto telah menyusun sebuah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang untuk menerapkan CBS dan dibahas pada rapat dengan Menkeu Mar’ie Muhammad dan Gubernur Bank Indonesia Sudradjat Djiwandono tanggal 10 Februari 1998. Namun Bos IMF Michel Camdessus segera mengirim surat pribadi tertanggal 11 Februari 1998 yang isinya mengancam agar Presiden Soeharto tidak menerapkan CBS, sebab hal ini akan mengganggu penerapan LoI IMF. Ia mengancam akan menunda pengucuran dana IMF sebesar US$ 43 Milyar bila tidak menuruti permintaannya.

Pak Harto merasa terjepit karena telah menandatangani LoI dengan IMF, dan kondisi ekonomi Indonesia yang makin memburuk, maka terpaksa beliau membatalkan rencana penerapan CBS, dengan akibat peneritaan rakyat Indonesia yang begitu panjang dalam KrisMon, bangkrutnya banyak perusahaan-perusahaan dan perbankan Indonesia. Kita iri dengan Malaysia, Argentina dan Chili yang dengan cepat dapat keluar dari KrisMon karena boleh menerapkan CBS. Mengapa?

Prof. Steve Hanke merasa bahwa tindakan IMF menentang penerapan CBS dan kontrol devisa di Indonesia adalah suatu kezaliman. Menurut Merton Miller, penerima Hadiah Nobel untuk Ilmu Ekonomi, mengatakan bahwa penolakan pemerintah Clinton dan IMF terhadap CBS “Bukan karena itu tidak akan jalan tapi justru kalau itu jalan maka Soeharto akan terus berkuasa“.

Menurut para ekonom yang berpikiran cerdas, masuknya IMF ke Indonesia seperti membawa kunci pembuka bagi gudang harta terpendam, yakni pasar Indonesia dan sumber-sumber daya alam dan energi yang luar biasa dahsyat. Buktinya, Di setiap pojok kota, kini begitu banyak kantor cabang bank asing, restoran asing, perusahaan tambang, perusahaan multinasional dan barang produk luar negeri.

(Sumber: Akhmad Kusaeni – Antara News).

Berikut ini adalah kesaksian Mr. Kuroda Takumi yang pada tahun 1998 sedang berada di hotel Ciragan Palace Hotel di Istambul, Turki bersama Prof. Steve Hanke saat menerima berita permintaan Presiden Soeharto untuk datang ke Jakarta. Sebuah pelajaran sejarah bagi para Capres dan Cawapres Indonesia 2009-2014:

This article was written by Steve H. Hanke and originally appeared in the National Post on May 28, 2003. He quoted Paul Keating, Lawrence Eagleberger, and even Michael Camdessus, assessing that our monetary crisis at that time really was intended to bring Soeharto down from power. And Steve himself too whom said what Merton Miller commented about the CBS as “would stabilize the rupiah and the Indonesian economy, and as a result, Mr. Suharto would stay in power“.

“Iraq, Regime Changes and Currency Boards”

by Steve H. Hanke

Most people think the overthrow of Saddam Hussein resulted from the U.S. government’s embrace of a new policy. This particular policy may be new, but the regime change idea and its use are not.

It is well known that Paul Wolfowitz, America’s Deputy Secretary of Defence, and a small group of like-minded neoconservatives, developed the regime change idea some time ago and have been promoting it ever since. Saddam Hussein was not the first to fall in the crosshairs of that policy. When the U.S. government concluded that Philippine
president Ferdinand Marcos was illegitimate, he had to go. Consequently, America actively assisted in his removal from power in 1986. The point man who engineered the overthrow of Mr. Marcos was Paul Wolfowitz, America’s assistant secretary of state at the time.
And during Mr. Wolfowitz’s tenure as the U.S. ambassador to Indonesia in 1986-1989, he planted the regime change idea once again. This time president Suharto was in the crosshairs. He was deemed to be corrupt and undemocratic and had to be overthrown. America, with the help of the International Monetary Fund (IMF), eventually accomplished its goal in 1998, when Mr. Suharto was toppled.

As it turns out, I know something about the overthrow of Mr. Suharto. In late January, 1998, I delivered a series of lectures at Bogazici University. One evening, as Mrs. Hanke and I were relaxing at Istanbul’s Ciragan Palace Hotel, I received an urgent message. It was an invitation from president Suharto to visit him in Jakarta.

Steve H. Hanke is a professor of applied economics at the Johns Hopkins University in Baltimore. He served as a senior economist on president Reagan’s council of economic advisors.

More by Steve H. Hanke
The Asian crisis of 1997 hit Indonesia hard. The IMF responded by prescribing its standard medicine, and Indonesia floated the rupiah on July 2, 1997. The results were catastrophic. The value of the rupiah collapsed, inflation soared and economic chaos ensued. Mr. Suharto was aware that I had advised Bulgaria and Bosnia to establish currency
boards in 1997. And like night follows day, currency chaos was halted in Bulgaria and Bosnia immediately after they adopted fixed exchange rates coupled with the full backing of their domestic currencies with foreign reserves.

President Suharto realized that the IMF’s medicine was killing the patient and that a currency board might prevent a complete collapse. Following our first meeting in Jakarta, Mr. Suharto named me his Special Counsellor. Shortly thereafter, I proposed a currency board for Indonesia, and Mr. Suharto endorsed the idea. This sent the Indonesian rupiah soaring. It appreciated 28% against the U.S. dollar on the day the news was released. This did not suit the U.S. government and the IMF.

Even though the currency board proposal gathered support from many Nobelists and other distinguished economists — including Gary Becker, Rudiger Dornbusch, Milton Friedman, Merton Miller, Robert Mundell, and Sir Alan Walters — it was subjected to a withering and ruthless
attack. Mr. Suharto was told in no uncertain terms — by both the president of the United States, Bill Clinton, and Michel Camdessus, then the managing director of the IMF — that he would have to drop the currency board idea or forego $43-billion in foreign assistance.

Why did a currency board for Indonesia cause such a violent reaction? Nobelist Merton Miller understood the great game immediately. He told the Christian Science Monitor newspaper that the United States wanted
to overthrow Suharto and that a currency board would spoil that plan. Prof. Miller said that the U.S. Treasury knew that a currency board would stabilize the rupiah and the Indonesian economy, and as a result, Mr. Suharto would stay in power. Consequently, the U.S. government used all means available — including the IMF — to oppose the idea. Australia’s former prime minister Paul Keating arrived at a similar conclusion: “The United States Treasury quite deliberately used the economic collapse as a means of bringing about the ouster of President Suharto.” Former U.S. secretary of state Lawrence Eagleberger embraced a similar diagnosis, too: “We [the U.S. government] were fairly clever in that we supported the IMF as it overthrew [Suharto]. Whether that was a wise way to proceed is another question. I’m not saying Mr. Suharto should have stayed, but I kind of wish he had left on terms other than because the IMF pushed him out.”

Even Michel Camdessus could not find fault with these assessments. On the occasion of his retirement, he proudly proclaimed: “We created the conditions that obliged President Suharto to leave his job.”

The neoconservative regime change idea and its use are not new. The only thing that distinguished its application in Iraq was the use of massive military force. Now comes the hard part: nation building. This will require (among other things) a sound currency. For that, a currency board would do the trick. After all, during the 1932-1947
period, an Iraqi currency board produced a sound and stable dinar anchored to the British pound.

Reference: Hanke, Steve H. (2003, May 28). Iraq, Regime Changes and Currency Boards. Retrieved June 14, 2009, from The Cato Institute Web site:

http://www.cato.org/pub_display.php?pub_id=6502

Posted on June 14th, 2009 under Indonesia terhindar dari Krismon 1997-98 bila menerapkan Currency Board System • Tags: IMF masuk Indonesia bawa kunci gudang harta karun, IMF sebagai pilar Kapitalisme Global, Kesaksian Mr Kuroda Takumi, Letter of Intent Indonesia-IMF 15 Jan 1998, Pelajaran Sejarah bagi para Capres dan Cawapres 2009-2014, Soeharto tunduk pada IMF

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Politik Bunga Matahari

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada April 22, 2009

Senin, 20/04/2009 18:24 WIB

Politik Bunga Matahari
Dody Susanto – detikPemilu

Jakarta – Politik itu sepenuhnya adalah seni. Seni cara mengungkapkan aspirasi, keinginan dan menyatukan aspirasi-aspirasi (orang) lain mejadi satu kesatuan untuk mewujudkan isi dari aspirasi itu. Dalam seni ini sebenarnya lebih menggunakan isnting dari pada logika.

Boleh politik itu didefinisikan sebagai seni untuk mempengaruhi orang lain, seni memimpin dan menguasai, seni mengolah kelemahan menjadi kekuatan, seni meramu informasi setrategis untuk kekuasaan, seni menempa kewaskitaan dalam memimpin, dan seni lain sebagainya. Ada banyak buku mendefisikan politik itu seni anu dan seni itu. Namun, Seni politik itu bahkan lebih bersifat activism, tindakan langsung; bukan pemikiran saja. Walaupun dalam ranah politik pemikiran juga dinilai sebagai tindakan politik manakala disuarakan. Dalam kajian sosio-linguistik pun pemikiran dianggap tindakan, manakala ia telah dibahasakan (disuarakan). Bukannya hanya pikiran yang dipikir-pikir saja. Dalam politik Apa yang menjadi pikiran ya dikerjakan. Apa yang diprogramkan partai ya dikerjakan, tidak hanya berupa macan kertas.

Begitulah seni politik, ketika sudah ditindakkah dan dilakukan baru kemudian muncul ilmunya, turunan metodisnya dan analisis-analisisnya. Tidak mungkin ada analisa politik dari seorang pengamat politik, jika tindakan politik itu sendiri belum ada. Maka dari itu dunia politik adalah dunia kewaskitaan mengolah insting, bukan logika dulu—logika itu baru datang setelahnya. Logika dalam politik hanya sebagai pembetul kedudukan-kedudukan politik dalam sikap politis. Karena politik itu sendiri tujuannya mulia, baik dan benar bagi banyak orang. Politik itu sendiri bersikap luwes, lentur dan mudah diatur—karena tidak bertujuan menciptakan keruwetan-keruwetan (kesulitan) dalam melangkah dan langkah-langkah program partai, misalnya; atau pemerintah dalam contoh sekala luasnya.

Fenomena SBY dan PD

Beberapa hari yang lalu kita sudah menjalani demokrasi elektoral yang dikemas dalam pemilihan caleg dari berbagai partai politik. Fenomena pemilu terbuka, langsung, umum, bebas, jujur, adil dan setara ini benar-benar kita rasakan bersama semenjak pemilu 2004 yang lalu. Pemilu sebelum-belumnya baru LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) saja. Kemudian JURDIL (jujur dan adil), tapi tidak setara. Sebab para caleg ditentukan oleh elit politik partai, atau bahkan pemerintah sendiri setelah dikonsultasikan, bukan rakyat/warga negara secara langsung. Inilah fenomena baik dalam dua pemilu ini yang pantas diembeli ‘satara’. Semua warga berhak memilih dan menentukan sendiri para calon legislatif yang menjadi wakilnya di parlemen. Yang tak lain itu merupakan hak setara dalam sikap politik.

Fenomena yang lebih menarik dari pemilu kedua ialah SBY dan Partai Demokrat. Partai tengah yang berdiri tahun 2001 yang lalu begitu saja muncul sebagai partai besar nasional mendampingi beberapa partai lama lainnya. Alangkah menariknya pula, saat demokrasi elektoral pemilu ini Partai Demokrat mengungguli partai-partai lainnya, dengan kemenangan yang hampir sempurna. Gejala apakah ini?

Susilo Bambang Yudhoyono (yang akrab disapa SBY) menjalani seni politik yang anggun dalam membesarkan partai ini keluar, dan kedalam seraya mendidik kader dengan sikap bernas dalam berpolitik, santun dalam tindakan, jujur dalam mengelola kelemahan dan kekuatan sendiri. Hingga teranglah dalam seni politik ini, SBY lebih menggunakan insting yang intuitif (mendekati sikap wisesa; wasis dan rumangsa kata orang jawa). Kemudian apa yang diterima dirinya melalui insting-intuitif itu dikelola dengan logika dan mesin politik yang benar; yang mampu menyerap semua aspirasi dari segala arah dari segala warna yang berbeda-beda. Kita bisa lihat hal ini dalam program-program politik pemerintah baik dalam kebijakan-kebijakannya ataupun dalam langkah-langkah pendeknya. Memang memesona untuk dilihat, karena ini (tindakan dan sikap politik SBY sebagai representasi pemerintah) adalah cara dan usaha mengatasi tantangan pemerintahan dan ujian politik dari kawan maupun lawan. Kita sebagai warga sekaligus rakyat merasa tepat memiliki pemimpin yang menggunakan “insting lalu logika” ini di kala perubahan arah politik nasional dan global serta kondisi sosial sedemikian rupa. Ingat saat awal SBY memerintah, negeri ini tak sudah-sudahnya dirundung malang dan duka akibat bencana alam dan ulah manusia (beberapa kecelakaan transportasi dan lumpur lapindo). Dan di jelang akhir periodenya dicegat krisis keuangan internasional yang bermula dari AS.

SBY memang punya ide dan cara sendiri untuk mendorong roda pemerintahan. Berbeda dengan pemimpin-pemimpin terdahulu. Sistematika berpikir dapat dijumpai dan diikuti dalam setiap bahasa pembicaraan dan (apalagi) pernyataan-pernyataannya yang bersifat serius. Cara-cara seperti ini tetap dikemukakan, dan dikedepankan di hadapan publik, dalam pergaulan maupun pemerintahan. Sebab itu adalah ukuran-ukuran umum yang dapat diterima semua kalangan. Entoch cara-cara itu berbungkus insting dan intuisi yang kuat. Sehingga bahasa (suara)nya tidak emosionil, gegabah, atau ngawur kata orang jawa. Inilah ilmu politik atau seni politik Bunga Matahari a la SBY.

Politik Bunga Matahari

Inspirasi Bunga Matahari seakan menjadi idiomatika tindakan dan sikap politik SBY,—Bunga Matahari ini murni peristilah yang dipakai penulis untuk penyederhanaan penggambaran sikap dan tindakan politik itu. Bagaimana peta situasi politik dan keteladanan SBY mengelola figuritas dengan tepat dan benar dalam situasi kepemimpinan politik dalam partai dan pemerintahan mengarah pada satu pola kepemimpinan—yang tegas, berpikir jernih di tengah kekeruhan suasana, bernas, jujur pada kemampuan dan kelemahan (yang berbalik menjadi kekuatan), tidak tergesa dalam sikap dan menerima perubahan dengan cepat. Figuritas ini berbanding lurus dengan sikap politik partai yang tidak menggunakan ‘aji mumpung’.

Politik Bunga Matahari ialah bersikap aspiratif terhadap datangnya tuntutan-tuntutan mendesak, yang bersifat aksidental (seperti akibat bencana) atau permanental; seperti kebijakan-kebijakan pro-rakyat, manakala melihat kondisi sosial ekonomi rakyat tergerus oleh krisis keuangan internasional. Kebijakan-kebijakan pro-rakyat itu antar alain: PNPM, BOS, Raskin, BLT, KUR, dll. Sebagai mana bunga matahari ia selalu menghadapkan diri ke arah sumber cahaya untuk menyerapnya sebagai proses fotosintesis, dimana ini berarti menyikapi keadaan dan meramu kekuatan dan kelemahan menjadi satu tindakan solutif demi kebaikan bagi banyak pihak. Beginilah kepemimpinan dalam kondisi krisis dan tantangan yang bertubi datang silih berganti. Itulah pula siasat yang dalam arti lainnya adalah politik untuk menghadirkan cara-cara dan usaha yang mudah dan memudahkan meraih kesejahteraan bagi rakyat.

Politik Bunga Matahari adalah bagaimana memerankan fungsi sensor cahaya untuk menangkap pesan kehidupan, untuk meramu kelemahan dan kekuatan menjadi kemampuan memecahkan masalah, dan memimpin dengan budi pekerti. Ini insting politik yang dimainkan oleh SBY, saya kira. Dimana setiap ‘pekerjaan politik’ tidak menunggu ditunda untuk dilaksanakan. Sehingga wajarlah menemukan semboyannya dengan satu kata “Lanjutkan!”. Begitulah kerja politik bersinambung demi kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

*Penulis adalah pengamat sosial-budaya

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

Hantaman Krisis Ekonomi, Ken Karpman dari CEO menjadi pengantar Pizza

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Maret 22, 2009

Ken Karpman: From CEO to Pizza Delivery Man

From CEO to Delivering Pizza Video

http://www.mefeedia.com/entry/from-ceo-to-delivering-pizza/15635580

Posted using ShareThis

You know the recession is in full swing when a CEO goes from $750,000 a year to a measly $7.29 an hour as a pizza delivery man. A former CEO of his own hedge fund, Ken Karpman went bankrupt and lost more than $500,000 of his own investment during the credit crisis.

There are no results for pizza. After taking a line of credit on his house to fund his business, he tried to pay back his debt with no source of income. Desperate for work he decided to apply at a Mike’s Deli and Pizzeria, after a potential bartending gig fell through. Although, extremely over qualified, the pizza owner gave him a chance. Karpman, an MBA from UCLA and former stock trader is fairly positive about his new position and looks to it as more of a growing process. At times, he finds himself delivering pizza to former colleagues and employees, but he doesn’t really let it get to him. Although understanding, Karpman’s wife puts most of the blame on him since he left his high paying job to start his hedge fund endeavor. He gladly accepts the blame and understands his faults. I must say, even though this isn’t the prettiest story ever, there’s a sense of realism and humility that makes you appreciate what you have.

Ditulis dalam ekonomi | Bertanda: , , , , | Leave a Comment »

From CEO to Delivering Pizza Video

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Maret 22, 2009

From CEO to Delivering Pizza Video

http://www.mefeedia.com/entry/from-ceo-to-delivering-pizza/15635580

Posted using ShareThis

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Lyrics dan video lagu “We will not go down (Song for Gaza)”

Ditulis oleh jendelaindonesia di/pada Februari 2, 2009

Text lagu We will not go down (Song for Gaza)
Lyrics:

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die

We will not go down
In the night, without a fight

We will not go down
In Gaza tonight

Ditulis dalam palestine | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »