Jendela Indonesia

Motivate young generation to be success in internet era

Arsip untuk ‘inspirator’ Kategori

Kisah Perjuangan Siti Fadilah Supari, dalam konspirasi AS (Vaksin Flu Burung) terhadap Indonesia

Posted by jendelaindonesia pada November 28, 2008

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian Influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. “Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon (silahkan saja). Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menindas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya” ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku. “Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar,” katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua. “Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. “Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

= Mengubah Kebijakan =

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi” tulis The Economist. The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico, AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Ditulis dalam inspirator | Bertanda: , , , , , , , | 1 Komentar »

Sukses Story: Nanda Marwali Ph.D bekerja di USA mempunyai 3 paten UPS (Uninterupt Power Suply)

Posted by jendelaindonesia pada November 23, 2008

Kira-kira seminggu yang lalu, saya ketemu teman-teman yang pernah saya sebut namanya pada mailing list wartabatan, teman alumni di IIT Chicago yaitu sdr Jakob (Jack) Purwono, Dirjen Listrik Dep. ESDM dan Sdr. M. Cita Marwali, bekerja di ABB sebelumnya di Silicon Valley, California, kini di ABB New York (dia eks BPPT). Kami berempat dengan teman lain Tunggul Birowo (MSc dari MIT, kemudian melanjutkan ke IIT), bekerja di perusahaan energi di Indonesia.

Kami bertemu di Mr. Bean, Citos. Banyak hal yang dibicarakan, termasuk masalah energi, PLN yang mandul karena tidak kompetitif dan monopoli (karena UU ttg PLN), dll. Dari Pembicaraan, suatu atmosfir yang dapat saya rasakan adanya keinginan kawan-kawan tersebut berkontribusi menghadapi masalah energi Indonesia. sdr. Cita, yang umurnya relatif masih sangat muda saat ini dapat dikatakan secara financial sudah mapan, gaji (dia dan istrinya) mencapai $500.000/tahun, tetapi masih menginginkan untuk kembali ke Indonesia, bekerja di pemerintahan dan berkontribusi untuk negara.

Tetapi melihat kultur Indonesia dimana faktor network (partai, klik, inner circle) lebih penting dari kompetensi seseorang, maka sangat sulit baginya untuk berperan misalnya di PLN. Hal ini sangat berbeda dengan support China terhadap peraih penghargaan solar cell tahun ini (asal china, tetapi warga negara Australia) yang pernah saya tulis pada mailing list ini. Karena support China dengan modal dan fasilitas, dia menjadi satu diantara yang terkaya di dunia versi Forbes. Perusahan-nya saat ini listing di New York Stock Exchange dengan simbol LDK. Peristiwa, seperti dipanggilnya Habibie dari Jerman oleh Soeharto sepertinya sangat sulit kembali terjadi di Indonesia.

Selain Sdr.Cita Marwali, dua orang adiknya juga bekerja di USA. Satu orang Dokter ahli bernama Muhammad Reza Marwali, satu lagi Nanda Marwali seperti kakak-nya Cita Marwali memperoleh Ph.D di bidang Electro. Sdr. Nanda Marwali saat ini mempunyai penemuan yang digunakan pada UPS (Uninterupt Power Supply).Ada 3 nomor patent atas namanya yang terdaftar pada kantor patent USA. Anak-anak Pak Marwali Harahap, ahli penyakit kulit di USU Medan dan ibu Sarjana Farmasi, asal Padang adalah contoh sukses warga Negara Indonesia yang bekerja di USA.

Syafedi Syafei, Ph.D

Ditulis dalam inspirator | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar »

Thomas Alva Edison, inventor 1093 paten (Tokoh Inspirator dan Motivator)

Posted by jendelaindonesia pada Oktober 31, 2008

Thomas Alva Edison, inventor 1093 paten
Oleh: Syafedi Syafei, Ph.D

Thomas Alva Edison dilahirkan pada tanggal 11 februari 1847 di Milan, Michigan, USA . Dia adalah penemu (inventor) terbesar sepanjang sejarah hidup manusia. Penemuan terpentingnya adalah bola lampu (bulb light), telegraph, film projektor, dan phonograph (recorder/kaset). Penemuannya yang dipatenkan berjumlah 1093 buah. Dia adalah pendiri perusahaan General Electric, perusahaan yang sekarang ini bergerak diberbagai bidang termasuk financial dan merambah ke seluruh belahan bumi termasuk Indonesia.

Kisah perjalanan hidupnya seperti dongeng. Penemuan yang dilakukannya adalah berkat kerja keras, konsistensi, dan dilalui melewati kegagalan dan jatuh bangun. Pada umur 7 tahun dikeluarkan dari sekolah oleh gurunya, karena dianggap bodoh dan terlalu banyak bertanya. Ibunya yang demikian sayang dan percaya kepada kemampuan anaknya meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan mendidik anaknya. Pertanyaan dan keinginan tahuan anaknya berusaha dia jawab. Pertanyaan yang tak diketahui jawabannya, berusaha dicarikan jawabannya dengan menanyakan kepada ahlinya.

Kisah hidupnya merupakan inspirasi bagi orang tua dalam mendidik anaknya. Kerja keras, rasa keingintahuan, dan sifat yang tidak mudah menyerah merupakan inspirasi bagi peneliti dan enterprenur. Dan sebagai sumber inspirasi/motivasi bagi generasi muda Indonesia. Kegagalan gurunya dalam mengetahui potensi, bakat, dan karakter anak didik, merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi para guru

Juga sebagai inspirasi/motivasi bagi anakku Salman Azis Alsyafdi lahir pada 11 Februari 1986( http://ilmusalman.wordpress.com/about/ ), yang baru saja di wisuda pada hari Jum’at, 9 Agustus 2008, pada Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia, dan anak-anakku Ilham, Melisa dan Adelina.

Start young

Think Big

Stick to it

And You have to believe on it and committed to it

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Masa Kecil Thomas

Thomas Alva Edison dilahirkan pada tanggal 11 Februari tahun 1847 di Milan, Ohio, USA. Dia adalah anak bungsu dari 7 orang bersaudara, dari Bapak Samuel Edison, Jr. Dan Ibu Nancy Elliot Edison. Ibunya adalah guru sekolah, dan Bapaknya adalah pedagang mulai grocery store dan real estate. Ketika Thomas kecil berumur 7 tahun, keluarganya pindah ke Port Huron, Michigan. Dia adalah anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar (curious) dan banyak bertanya.

Pendidikan Thomas

Thomas Alva Edison memulai sekolah pada umur 7 tahun di Port Huron, Michigan. Gurunya, Reverend G. B. Engle menganggap Thomas adalah siswa yang bodoh. Thomas kecil tidak suka matematika, dan terlalu banyak bertanya. Ceritanya, guru pada waktu itu tidak menyukai siswa yang banyak bertanya. Setelah 3 bulan sekolah, gurunya memanggil Thomas dengan sebutan ”addled”, yang berarti bingung dan kacau (confused and mixed up). Thomas kecil, diberi surat oleh gurunya untuk diserahkan kepada orang tuanya. Isi suratnya, adalah tentang ketidak sanggupan guru mendidik Thomas, dan agar dididik sendiri atau dipindah ke sekolah lain. Intinya dia dikirim ke rumah, dan gurunya tak sanggup menanganinya.

Hari berikutnya, Nancy Edison membawa Thomas kembali ke sekolah untuk bicara dengan Reverend Engle. Guru tersebut mengatakan kepada ibunya bahwa Thomas kecil tak bisa belajar Nancy sangat marah dengan cara guru yang sangat strik tersebut. Dia bawa kembali anaknya ke rumah dan memulai melakukan “Home Schooling” Thomas kecil. Walaupun disebutkan bahwa dia mengikuti 2 sekolah yang lain, tetapi dia sangat jarang hadir di sekolah. Jadi, hampir seluruh masa pembelajaran anak-anak terjadi di rumah.

Edison Senang Membaca

Orang tua Edison sangat suka membaca. Dia membacakan Thomas buku-buku yang baik dan juga buku sejarah. Mereka mepunyai banyak buku yang bagi Thomas kecil yang sangat curious digali dan dipelajari. Sebelum berumur 12 tahun, dia sudah membaca karangan Dickens dan Shakespeare. Fall of Roman Empire and Decline oleh Edward Gibbon, dan bacaan lainnya sudah dilalapnya.

Nancy Edison menyemangati dan mendorong rasa ingin tahu Thomas dengan belajar sendiri melalui buku dan experimen. Orang tuanya mempunyai dedikasi tinggi untuk mengajar anaknya. Mereka tidak memaksa anaknya untuk belajar sesuatu yang tidak disukai Thomas. Maka Thomas belajar tentang sesuatu terutama yang menarik baginya.

Sewaktu Thomas berumur 9 tahun, Nancy Edison memberi Edison buku Sains Dasar. Buku tersebut menjelaskan tentang bagaimana percobaan kimia dilakukan di rumah. Thomas melaksanakan setiap experimen yang ditulis pada buku tersebut. Dan Nancy memberi buku sains lebih banyak untuk Thomas. Akhirnya Thomas sangat mencintai Ilmu Kimia dan membelanjakan semua uang jajannya untuk pembelian zat kimia pada toko pharmasi lokal. Dia mengumpulkan botol, kabel, dan ala-alat lainnya untuk experimennya.

Pada umur 10 tahun, Thomas membangun labaratorim Sains pertama di basement rumah keluarganya. Bapaknya tidak menyetujui aktifitas Thomas di lantai dasar tersebut. Kadangkala, Sam bapaknya memberinya 1 penny (10 cent) agar Thomas kembali membaca buku. Tetapi sering Thomas menggunakannya untuk membeli lebih banyak zat kimia untuk experimennya. Semua botol yang digunakan dalam experimen diberi label ”racun”. Dan tentunya dia mengetahui spesifik masing-masing botol tersebut. (bersambung)

Thomas Alva Edison Penemu 1093 paten, inspirasi dan motivasi (bag 2)

Pekerjaan Pertama

Sewaktu Edison berumur 12 tahun, dia bekerja sebagai “anak kereta” pada Grand Trunk Railway. Kereta tersebut melewati jalur dari Port Huron, ke Detroit, dan kembali ke Port Huron, dalam satu hari. Sebagai ”anak kereta” dia menjual suratkabar dan permen kepada penumpang kereta. Dia juga mencetak koran mingguan, yang diberi nama Weekly Herald. Semua uang yang diperoleh dibelanjakan untuk membeli buku dan peralatan untuk laboratorium kimianya.

Sekitar setahun kemudian, dia memperoleh izin untuk memindahkan lab rumahnya ke gerbong barang kereta. Dia melakukan experimen sains-nya selama kereta berhenti selama 5 jam di Detroit. Tetapi suatu hari, gerbong kereta tersebut meledak dan terbakar karena tumpahan campuran zat kimia penelitiannya. Kundektur mengusir Thomas dan membuang zat kimia-nya dari kereta, dan dia tidak dibolehkan lagi berjualan dan ber-ekperimen di kereta. Kecelakaan tersebut tidak membuatnya kapok dengan experimennya. Pekerjaan selanjutnya adalah menjual koran di station sepanjang perjalanan dari Port Huron ke Detroit.

Masalah Pendengaran

Selama masa kanak-kanak nya, Edison mempunyai masalah pendengaran. Pendengarannya makin menurun pada umur 15 tahun karena kecelakaan di kereta. Ketika dia mencoba melompat sewaktu kereta sedang berjalan, kondektur menangkap telinganya untuk menariknya kembali ke atas kereta. Thomas mengatakan dia merasakan sesuatu menghantam didalam kepalanya. Pendengarannya makin berkurang. Ketuliannya sebenarnya dapat diobati dengan operasi. Tetapi, ”dengan tuli membantunya untuk lebih konsentrasi”, katanya.

Suatu waktu dia mengatakan “Barangkali dengan tuli memacunya untuk banyak membaca”. Dia adalah satu diantara pengguna pertama yang memanfaatkan Pustaka Detroit yang tanpa bayar. Nomor kartu pustakanya adalah no 33. Setiap rak buku ditelusurinya, dan membaca setiap buku.

Diantara demikian banyak jenis buku, dia sangat menyenangi buku sains. Dia menggali buku tentang elektrik, mekanik,analisa kimia, manufaktur, teknologi, dll. Dia menyadari masa depannya adalah menemukan cara untuk membuat kehidupan lebih baik, tidak hanya belajar bagaimana sesuatu bekerja.

Penemuan Pertama

Sembilan tahun sebelum Edison dilahirkan,Samuel . B. Morse terkenal dengan penemuan telegraph. Telegraph mengirim pesan melalui kawat (wire) menggunakan kode Morse. Pada kode Morse, huruf dan angka ditulis menggunakan kombinasi titik (dots), strip (dashes), dan suara singkat dan panjang. Pada waktu Edison memulai experimen, jalur telegrap melintas sebagian besar daerah. Dia sudah ingin mempelajari telagraph dan mengirim berita melalui kawat telegrap.

Sewaktu menjual Koran sepanjang jalan kereta, sesuatu terjadi yang mengubah jalan hidupnya. Edison menyelamatkan anak dari pejabat station. Anak itu jatuh ke trak jalan yang akan dilewati kereta, Edison menyelamatkannya. Ayah anak tersebut berterimakasih kepada Edison dengan mengajarkannya bagaimana menggunakan telegrap. Edison menggunakan metal untuk membuat set telegrap dan mempraktekkan kode Morse.

Sewaktu Edison berumur 16 tahun, dia pindah ke Toronto, Kanada. Dia menjadi asisten telegrap. Pekerjaannya adalah melaporkan sesuatu setiap jam menggunakan telegrap. Edison berpikir hal ini membuang waktu. Dia menciptakan suatu gajet yang dapat mengirim sinyal, walaupu dia sedang tidur, secara otomatis setiap jam. Ini adalah temuan pertamanya. Sewaktu bosnya menemuinya sedang tidur, hampir saja dia dipecat.

Ditulis dalam inspirator | Bertanda: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.