Jendela Indonesia

Motivate young generation to be success in internet era

Posts Tagged ‘grindra’

Caleg Nepotis Kuasai Parpol (Indonesia Monitor)

Posted by jendelaindonesia pada Oktober 30, 2008

Caleg Nepotis Kuasai Parpol (Indonesia Monitor)

Caleg nomor urut 1 tetap jadi langganan para petinggi parpol dan kroninya. Caleg dari kalangan artis dan tokoh masyarakat hanya jadi “pelengkap penderita”. Siapa saja mereka?

Sehari setelah pemilu legislatif, Nurul Arifin tersenyum penuh kemenangan ketika melihat hasil penghitungan suara sementara di daerah pemilihan (dapil) Jabar VI. Meski berada di nomor urut 3, ia memperoleh suara terbanyak, jauh melampaui perolehan suara caleg Partai Golkar di nomor urut 1 dan 2, Ade Komaruddin dan Wasma Prayitno.

Namun, artis cantik itu tak lama mengembangkan senyum. Berdasarkan hasil akhir penghitungan suara oleh KPU, Partai Golkar dipastikan hanya memperoleh dua kursi dari dapil yang meliputi Karawang dan Purwakarta itu. Sementara, perolehan suara Nurul belum mencapai angka bilangan pembagi pemilih (BPP) meski tertinggi di antara caleg lain. Akhirnya, Nurul harus merelakan perolehan suaranya untuk mengantar Ade dan Wasma ke Senayan.

Meski hanya sebagai “pengganjal” caleg lain untuk naik ke kursi DPR RI, saat itu Nurul menerima dengan legowo. “Saya tidak menyesal. Setelah melihat perolehan suara saya yang tinggi itu, justru saya mendapatkan banyak pelajaran politik dari kasus tersebut,” ujar Nurul kepada wartawan.

Kini, setelah berjalan empat tahun, Nurul tampaknya tak mau sekadar belajar menerima “kekalahan”. Saat relaunching film Nagabonar di Surabaya, bulan lalu, ia begitu geregetan ketika dikabarkan bakal dipindah dapilnya dari dapil Jabar VII (meliputi Purwakarta, Karawang, Bekasi) ke dapil Jabar XI (Garut, Kab/Kota Tasikmalaya). “Enak aja. Gue udah capek-capek nggarap daerah Purwakarta kok mau dipindah. Apalagi, di situ suara gue paling signifikan daripada caleg lain,” celetuknya.

Tak hanya soal pindah dapil. Soal nomor urut caleg, Nurul pun sekarang begitu sensitif. “Jangankan (ditempatkan di) nomor urut 3 atau 4, nomor urut 2 pun masih akan saya pertimbangkan,” ujarnya kepada Indonesia Monitor, Sabtu (26/7) pekan lalu.

Rupanya, Nurul masih menyisakan trauma kisah empat tahun lalu. Ia sadar, sebagai public figure, namanya adalah trade mark yang sangat layak jual. Apalagi, berdasarkan survei Marketing Research Specialist (MARS) di Pemilu 2004 lalu, ia merupakan caleg paling popular dari kalangan artis. Ia mengungguli Rieke Dyah Pitaloka (PKB), Marissa Haque (PDIP), Sys Ns dan Adjie Massaid (Partai Demokrat), Astri Ivo (PKS), dan Nia Daniati (PKPB).

Namun, Nurul punya alasan lain soal sikap kerasnya meminta nomor urut jadi alias nomor urut 1. “Saya kasihan sama Golkar,” ujarnya. Menurutnya, dengan bukti perolehan suara di Pemilu 2004 lalu, berarti ia mendapat kepercayaan besar dari konstituen. “Makanya, jika saya hanya jadi vote gather, berarti Golkar tidak menghargai konstituen. Kasihan kan citra Golkar rusak di mata pemilihnya,” lanjutnya.

Harapan Nurul untuk dapat nomor urut 1 mungkin bakal jadi kenyataan. Sebab, Sabtu (26/7) pekan lalu, Ketua DPD Partai Golkar Jabar Uu Rukmana memastikan istri Mayong Suryolaksono itu bakal dipasang di nomor urut 1. “Kemampuan Nurul dalam politik sudah cukup berkualitas. Dia tidak seperti artis lain yang latah-latahan terjun ke dunia politik,” ujar Uu Rukmana kepada wartawan di Garut.

Jika Nurul Arifin yang sudah sangat populer itu saja harus menunggu empat tahun untuk mendapatkan nomor urut 1, bagaimana dengan caleg yang “biasa-biasa saja” dan jauh dari ring-1 parpol? Apalagi, “Sampai saat ini, parpol-parpol masih gemar melakukan KKN dalam menyusun caleg. Hanya orang-orang yang dekat secara personal dengan petinggi partai yang bisa menikmati nomor urut caleg jadi, meski secara kualitas tidak terlalu bagus,” ujar Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti kepada Indonesia Monitor, Jumat (25/7) pekan lalu.

Sinyalemen Ray bukan pepesan kosong. Para penentu kebijakan di parpol memang masih menganak-emaskan kader-kader terdekatnya, meski kemampuannya belum teruji benar. Partai Demokrat, misalnya, jauh-jauh hari telah menempatkan Edi Baskoro, putra bungsu Presiden SBY, sebagai caleg nomor wahid di dapil DKI II yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Luar Negeri.

“Sangat mustahil penempatan di nomor urut satu karena pertimbangan kemampuan. Alasan pertama dan utama adalah karena dia anaknya petinggi di parpol tersebut,” tandas Ray. Seperti diketahui, SBY adalah Ketua Dewan Pembina PD.

Caleg PD lain yang berada di “nomor jadi” adalah para pengurus partai inti, baik di DPP maupun yang saat ini sedang duduk di DPR, seperti Ahmad Mubarok, Marzuki Alie, Zainal Abidin, Jhonny Allen Marbun, Max Sopacua, Syarif Hasan, Angelina Sondakh, Adji Massaid, dan Sutan Bhatoegana. Muka baru ketiban duren antara lain Andi Mallarangeng, Roy Suryo, dan Anas Urbaningrum. “Secara keseluruhan, persentasenya 60:40 untuk muka lama dan muka baru,” ujar Sekretaris FPD DPR Sutan Bhatoegana kepada Indonesia Monitor, Jumat (25/7) pekan lalu.

PDIP juga setali tiga uang. Puan Maharani, “putri mahkota” partai berlambang kepala banteng itu, sudah adem-ayem di posisi nomor 1 di dapil Jateng V (meliputi Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Kota Surakarta). “Ketua Umum, Ibu Megawati mengizinkan Puan mencalonkan dari sana,” ujar Wasekjen DPP PDIP Mangara Siahaan yang maju dari dapil Jateng IV (Wonogiri, Karanganyar, Sragen).

Selain Puan, generasi kedua Bung Karno yang bakal maju adalah Puti Guntur, putri tunggal Guntur Soekarno Putra. Meski dapil wanita kelahiran 26 Juni 1971 ini masih belum final, namun ia dipastikan ketiban nomor 1. Tapi, “Dari keluarga nggak boleh banyak-banyak,” ujar Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP Taufiq Kiemas kepada Indonesia Monitor, Kamis (24/7) pekan lalu.

Partai Golkar selama ini paling alot dalam penentuan caleg-calegnya. “Maklum, kita kan partai besar, calonnya banyak jadi mesti hati-hati,” ujar Ketua Harian Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Pusat Partai Golkar Firman Subagyo kepada Indonesia Monitor, Jumat (25/7) pekan lalu. Namun, bisa dipastikan, nama yang bakal masuk caleg nomor jadi adalah para petinggi partai, seperti Agung Laksono dari dapil DKI. Sementara, caleg artis seperti Tantowi Yahya (Sumsel I), Jeremy Thomas, dan Dewi Yul, bisa jadi bernasib seperti Nurul Arifin di Pemilu 2004.

Dibanding Golkar, PKS bisa dibilang paling siap untuk urusan caleg. Menurut Ketua Tim Pemenangan Pemilu PKS Mardani, beberapa pentolan PKS yang sudah fix maju sebagai caleg di nomor jadi antara lain Tifatul Sembiring (Sumut I), Anis Matta (Sulsel I), Hidayat Nur Wahid (Jateng V), Adhyaksa Dault (Sultra I), Adang Daradjatun (DKI III), Abu Bakar, Mahfud Shidiq (Jabar), Suripto (Jatim), Deni Daruri (Bali), Irwan Prayitno (Sumbar I), Yoyoh Yusroh (Banten III). Sementara, “Saya di dapil Jabar VII” ujar Wasekjen DPP PKS itu kepada Indonesia Monitor, Jumat (25/7) pekan lalu.

Meski habis konflik, PKB pun sudah menyiapkan kadernya untuk jadi caleg. Menurut bocoran di PKB, nama-nama yang bakal duduk di nomor wahid antara lain, Ida Fauziah (Jatim XIII), Nur Syahbani Katjasungkana (Jatim III), Zaenal Arifin (Jatim X), Hanif Dhakiri (Jateng V), Muhaimin Iskandar (Jatim I), Lukman Edy (Jatim IV), Abdul Kadir Karding (Jateng III), Marwan Jakfar (Jateng VI), Mufid A Busyairi (Jateng II), Niam Salim (Jateng VII), dan Helmi Faishal Zaini (Jabar I).

Menurut Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu DPP PKB Hanif Dzakiri, siapa pun berhak menjadi caleg PKB, termasuk dari kubu Gus Dur. “Kecuali tujuh orang yang sudah dicekal itu,” ujar Hanif kepada Indonesia Monitor, Jumat (25/7) pekan lalu. Tujuh orang yang dicekal PKB Muhaimin diduga Yenny, Hermawi Taslim, Moeslim Abdurrahman, Aris Junaedi, Sigit Haryowibisono, Artalita Suryani, dan satu kader berinisial TL.

PPP juga tak mau kalah. Menurut Sekretaris Lajnah Pemenangan Pemilu Legislatif (LP2L) PPP Husnan Bey Fanani, nama-nama yang sudah masuk “kantong aman” adalah para petinggi parpol seperti Irgan Chairil Mahfudz, Suryadarma Ali, dan Lukman Hakim Saefudin. Mereka dilapis dengan caleg dari kalangan artis dan tokog masyarakat seperti Marissa Haque (Jabar), Emilia Contessa (Jatim), Rhoma Irama (DKI), Zainddin MZ (DKI), Mat Solar (Jabar), Kristina (Jateng), Pasha “Ungu” (Jabar), Dr Qomari Anwar (DKI).

PAN di bawah kendali Soetrisno Bachir juga banyak mengandalkan selebritis sebagai pengeruk suara, seperti artis Wulan Guritno, Derry Derajat, Marini Zumarnis, dan Adrian Maulana. Meski begitu, kader utama PAN, seperti pengurus DPP dan DPW tetap dinomorsatukan, seperti Ketua DPW PAN NTT Eurico Guterres. “Kita juga sedang melamar Gubernur Jateng Ali Mufiz,” ujar Soetrisno.

PBB yang sudah mencalonkan Yusril Ihza Mahendara kandidat capres juga menempatkan tokoh-tokoh inti parpol di nomor urut 1, seperti Sahar L Hasan (Banten III), Ahmad Sumargono dan Habib Naufal (DKI), MS Kaban, Hamdan Zoelva, dan juga Yusril. “Selain itu, kita juga mencalegkan Ustad Yusuf Mansyur (DKI) dan mantan istri WS Rendra, Sitoresmi Prabuningrat,” ujar Sekretaris Komite Aksi Pemenangan Pemilu yang juga Wasekjen DPP PBB Amrullah Andi Hamid kepada Indonesia Monitor, Jumat (25/7) pekan lalu.

Sementara, ada dua parpol baru yang menempatkan tokoh-tokoh nasional sebagai calegnya, yaitu Partai Hanura dan Partai Gerindra. Menurut Wakil Sekretaris Panitia Seleksi Bakal Caleg Partai Hanura, Saleh Husin, nama-nama yang duduk sebagai caleg nomor 1 antara lain, Fuad Bawazier (DKI), Yus Usman Sumanegara (Jabar), Dewi Yasin Limpo (Sulsel), Farouk Muhammad (NTB), AS Hikam (Jatim), Uga Wiranto (Gorontalo), dan Djafar Badjeber (DKI III).

“Selain itu, kita juga menjaring dari kalangan artis, seperti Gusti Randa (Sumbar),

Anwar Fuadi (Sumsel), Helmalia Putri, Misye Arsita, dan David Chalik,” ujar Djafar kepada Indonesia Monitor, Jumat (25/7) pekan lalu.

Partai Gerindra yang dikomandani Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto juga menempatkan para pentolan partai sebagai caleg nomor 1. Mereka antara lain, Suhardi (Jateng), Fadli Zon (Banten), Halida Hatta (DKI), Gleny Kairupan (Sulut), Ahmad Muzani, dan Slamet Subiantoro (Jateng). “Ada juga dari kalangan artis seperti Jaja Miharja (Jabar), Steve Imanuel (DKI), dan Tengku Wisnu (Jabar). Sementara, Muchdi Pr tak berminat maju,” ujar Sekjen Partai GerindraGerindra, Ahmad Muzani, kepada Indonesia Monitor, Kamis (24/7) pekan lalu.

Siapa saja caleg yang bakal jadi anggota DPR? Siapa pula yang hanya caleg “jadi-jadian” alias caleg pengganjal? Jawabannya ada di pemilu legislatif 9 April 2009 mendatang.

Posted in caleg | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.